BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Dasar Pemikiran
Sejarah
selalu memiliki nilai tukar bagi kehidupan manusia. Sejarah memiliki nilai tukar karena dapat
memberikan kearifan bagi yang mempelajarinya. Melalui sejarah dapat dilakukan
pewarisan nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi masa kini. Dari
pewarisan nilai-nilai itulah akan menumbuhkan kesadaran sejarah, yang pada
gilirannya dapat dimanfaatkan untuk membentuk suatu karakter seseorang yang mandiri. Penelitian sejarah
diperlukan untuk memahami realitas masa lampau suatu kelompok masyarakat pada
tempat tertentu. Sejarah mempelajari aktor sejarah manusia yang sebenarnya. Edwar Hallet Carr menyatakan, bahwa “Sejarah merupakan
proses interaksi yang tidak henti-hentinya antara sejarawan dengan fakta dan
merupakan pula dialog yang tidak pernah berakhir antara masa sekarang dengan
masa lampau”
Penelitian
sejarah tidak lepas dengan kepentingan masa kini dan masa datang sehingga dalam
memahami masa kini atas dasar peristiwa atau perkembangan di masa lalu. Hasil penelitian sejarah dapat mendorong dan
menjadi bahan pengetahuan terapan-terapan, seperti bagaimana masyarakat dulu
telah menemukan teknik konstruksi bangunan tahan gempa dan ramah lingkungan,
seperti beberapa komplek percandian di Jawa. Candi merupakan salah satu
bangunan warisan budaya masa lalu yang merepresentasikan keluhuran dan
ketinggian budaya masyarakat. Sebagai calon guru sejarah, mahasiswa Pendidikan
Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung harus profesional sehingga mampu
mengadaptasi kerumitan di lapangan.
1.2 Maksud dan Tujuan
a. Meningkatkan wawasan keilmuwan tentang
konsep dasar pengetahuan sejarah sebagai kerangka berpikir dalam mempersiapkan
pemahaman disiplin ilmu sejarah melalui Kuliah Kerja Lapangan terstruktur dan
terbimbing.
b. Meningkatkan pemahaman dan wawasan
pengetahuan tentang prosedur penelitian dan penulisan sejarah serta
permasalahannya.
c. Memotivasi untuk mengembangkan pemahaman
terhadap perkembangan sejarah budaya melalui observasi faktual hasil-hasil
peradaban masa silam.
d. Menjadikan peserta Kuliah Kerja Lapangan
memahami wawasan keilmuan berdasarkan kerangka berfikir yang kritis, analitis,
sistemik dan kronologis dalam memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di
sekitarnya.
e. Mahasiswa mampu mengembangkan bahan ajar
serta menghasilkan sebuah prodak yang bernilai mahal.
1.3 Obyek Studi
|
No
|
Situs
|
Lokasi
|
Deskripsi
|
|
1
|
Candi Gedong Songo
|
Kab. Semarang, Jawa Tengah
|
|
|
2
|
Monumen Palagan Ambarawa
|
Kab. Semarang, Jawa Tengah
|
|
|
3
|
Museum Kereta Api Amarawa
|
Kab. Semarang, Jawa Tengah
|
|
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Candi
Gedong Songo
Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek
bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, di
Kecamatan Bandungan, dan masuk dalam kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tepatnya
candi gedong songo terletak di lereng Gunung Ungaran. Di area candi ini
terdapat sembilan buah candi. Kata gedong songo berasal dari bahasa jawa,
gedong berarti bangunan atau rumah, dan songo berarti sembilan. Jadi gedong
songo berarti sembilan (kelompok) bangunan.
Lokasi 9
buah banguna candi ini tersebar di lereng Gunung Ungaran yang memiliki
pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi candi gedong songo juga terdapat
hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut
tipis yang turun dari atas gunung sering muncul, hal ini mengakibatkan kita
sulit untuk memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi gedong songo ini
memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di daerah Wonosobo. Candi gedong
songo ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.
Ha ini mengakibatkan suhu udara di kawasan candi gedong songo ini cukup dingin.
Candi
gedong songo sendiri diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan
peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927
masehi). Komplek Candi Gedong Songo ini dibangun oleh Putera Sanjaya, seorang
Raja Mataram Kuno pada sekitar abad 7 masehi. Dilihat dari arsitektur dan
pendirinya yang beragama hindu, candi gedong songo dipastikan merupakan candi
hindu yang dibangun untuk tujuan pemujaan. Di candi gedong songo terdapat
beberapa patung dewa seperti Syiwa mahaguru, Syiwa Mahakala , Syiwa Mahadewa,
Durgamahesasuramardhani dan Ganesya. Candi gedong songo ini dijadikan tempat
pemujaan bagi umat hindu. Di dalam kompleks candi gedong songo ini Juga
ditemukan Lingga dan Yoni yang merupakan ciri khas dari candi hindu di
Indonesia.
Candi
Gedong Songo mempunyai karakter Aura Alam Ghaib yang sangat kuat dan mistik.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, komplek candi ini terdiri atas sembilan
buah candi, yang berderet dari bawah ke atas yang dihubungkan dengan jalan
setapak bersemen. Satu bangunan Candi yang berada dipuncak paling tinggi
disebut puncak Nirwana. Dilokasi sekitar candi gedong songo ini juga teerdapat
bukit Kendalisodo dan Gua tempat Hanoman bertapa.
A. Candi Gedong Songo – Candi Gedong 1
Candi gedong 1 merupakan salah satu candi
didalam kompleks candi gedong songo yang berupa sebuah bangunan candi utuh.
Candi gedong 1 berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu besar dengan
ketinggian sekitar 4 hingga 5 meter. Candi ini berdiri diatas sebuah batur atau
kaki candi setinggi 1 meter yang dihiasi dengan pahatan relief sulur dan
pahatan bunga atau padma disekelilingnya. Pada bagian dalam badan candi
terdapat sebuah ruangan sempit, sementara pada bagian luarnya terlihat polos
tanpa relief, pada bagian luar candi hanya terdapat pahatan sederhana yang
berbentuk bunga seperti bingkai yang kosong dibagian tengahnya.
B. Candi gedong songo – candi gedong II
Candi gedong II berdiri diatas sebuah batur
yang berbentuk bujur sangkar dengan luas 2,2 m persegi dan tinggi 1 meter. Pada
bagian atas batur memebentuk selasar dengan lebar setengah meter yang
mengelilingi candi. Pada badan candi dibagian sisi luar di ketiga dindingnya
terdapat ceruk kecil sebagai tempat untuk meletakan arca. Ceruk ini dihiasai
dengan dua kepala naga pada bagian bawahnya dan kalamakara pada bagian atas.
Pada bagian luar ceruk dihiasi dengan pahatan pola kertas tempel. Pada bagian
atas candi hanya terlihat reruntuhannya saja. Dibagian depan candi terdapat
sebuah reruntuhan bangunan candi kecil yang dikenal dengan nama candi perwara
yang memiliki fungsi seakan-akan sebagai penjaga.
C. Candi gedong songo – candi gedong III
Candi gedong tiga merupakan sebuah kelompok
candi yang terdiri dari 3 buah candi besar. 2 buah candi besar menghadap ke
timur dan terlihat seperti candi kembar dan berbentuk seperti candi gedong II.
Disamping pintu mamsuk 2 candi ini terdapat relung yang berisi arca Siwa denagn
posisi berdiri dengan gada panjang di tangan kanannya. Sedangkan sebuah candi
yang lainnya menghadap ke arah barat dengan ukuran yang lebih kecil. Candi
kecil ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Pada dinding candi
utama terdapat relung yang berisi arca Ganesha dan Durga bertangan 8.
D. Candi gedong songo – candi gedong IV
Candi gedong IV terdiri dari sebuah candi
utama dan beberapa reruntuhan candi di sekitarnya yang kemungkinan merupakan
candi perwara. Pada candi utama memiliki bentuk seperti candi gedong II dengan
batur setinggi 1 meter dan selasar selebar setengah meter di sekelilingnya. Di
bagian dinding sebelah luar terdapat bilik penampil dengan relung yang berisi
arca yang sudah rusak.
E. Candi gedong V
Candi gedong V terdiri dari sebuah candi utama
dan sejumlah reruntuhan candi sekitarnya yang diduga sebagai candi perwara.
Candi gedong V berbentuk mirip dengan candi gedong II. Pada dindning luar candi
gedong V terdapat relung yang berisi arca Ganesha denga posisi duduk bersila.
Diantara candi gedong III dan candi gedong IV terdapat sebuah pemandian air
panas. Pemandian air panas ini terletak dikepunden gunung yang memiliki sumber
air panas dengan bau belerang yang sangat menyengat
2.1.1 Monumen
Palagan Ambarawa
Setelah mengunjungi Museum Palagan Ambarawa,
saya pun berjalan mengelilingi Monumen Palagan Ambarawa yang cukup teduh sambil
memotret monumen serta beberapa persenjataan dan kendaraan militer dan sipil
yang digunakan dalam pertempuran Palagan Ambarawa yang bersejarah itu. Sebuah
pertempuran heroik antara yang mengikuti perintah komandan dan mereka yang
berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara tercintanya.
Pertempuran atau Palagan Ambarawa berlangsung mulai 2 Desember 1945 pada jam
4.30 pagi dengan bunyi sebuah tembakan sebagai aba-aba bagi para pejuang
Indonesia yang sudah berada di posisinya masing-masing di sekitar kota Ambarawa
untuk memulai serangan mendadak terkoordinasi di semua sektor pertempuran.
Tentara sekutu akhirnya dikalahkan dan meninggalkan Ambarawa pada 15 Desember
1945 jam 5.30 sore. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Infanteri,
yang kemudian diganti menjadi Hari Juang Kartika. Waktu telah berulangkali
membuktikan bahwa apa yang dahulu terasa sangat pahit dan menyakitkan bisa
berubah menjadi sangat manis untuk dikenang bertahun kemudian. Sama halnya, apa
yang begitu manis bertahun lalu, bisa terasa sangat menyakitkan hari ini.
Karenanya, akan bijaksana untuk selalu mengingat paradoks hidup ketika sesuatu
terjadi, baik atau pun buruk.
Monumen Palagan Ambarawa ini dibangun pada
tahun 1973 dan diresmikan pada 15 Desember 1974 oleh, ketika itu, Presiden
Soeharto. Gambaran singkat sejarah pertempuran bisa dilihat pada relief yang
dibuat pada dinding monumen. Selain monumen, di sekitar kompleks yang cukup
luas ini pengunjung juga bisa melihat instalasi koleksi benda bersejarah yang
pernah berperan atau mengambil bagian dalam peristiwa Palagan Ambarawa.
Di sisi sebelah kiri Monumen Palagan Ambarawa
terdapat sebuah lokomotif kereta api yang masih terlihat utuh dan cantik, dan
sebuah gerbong penumpang di belakangnya. Seorang anak tampak tengah bermain di
depan loko, sementara si ibu muda hendak naik ke gerbong penumpangnya di ujung
sana. Pada badan gerbong kereta api dengan warna dominan hijau dan krem itu
terdapat beberapa buah tulisan slogan perjuangan yang membakar semangat tempur,
seperti: “Merdeka atau Mati!” atau “Hantjoerkan Moesoeh Kita”.
Melangkah lagi ke sebelah kanan belakang
Monumen Palagan Ambarawa terdapat dua buah truk militer berwarna hijau tua yang
dipergunakan dalam pertempuran Ambarawa. Kecepatan pergerakan tentara dalam
melakukan serangan serta gangguan dan penghadangannya merupakan salah satu
elemen keberhasilan dalam berbagai pertempuran. Selain itu truk militer juga
digunakan dalam membawa logistik makanan, amunisi dan perlengkapan militer
lainnya.
Tidak jauh dari kedua truk militer itu
terdapat instalasi senjata anti pesawat udara yang dirampas dari tentara
Jepang, dan dipergunakan oleh para pejuang dalam Palagan Ambawara melawan
tentara sekutu. Selanjutnya di sisi paling kanan Monumen Palagan Ambarawa
terdapat koleksi pesawat tempur Mustang Belanda yang ditembak jatuh di Rawa
Pening oleh tentara Indonesia dalam pertempuran bersejarah itu. Di lapangan
terbuka di depan monumen, pengunjung dapat naik becak mini sambil menikmati
kesegaran udara kota Ambarawa. Ada beberapa becak mini yang saya lihat tersedia
di sana, namun hanya seorang pengayuh yang saat itu ada.
Monumen Palagan Ambarawa adalah obyek wisata
sejarah yang anda perlu kunjungi jika memiliki waktu luang ketika berada di
kota Semarang. Monumen ini merupakan tengara bagi kota Ambarawa yang sejuk,
juga sumber inspirasi dan pengingat bagi bangsa Indonesia akan perjuangan dan
pengorbanan para pendahulu dalam menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara.
2.1.2 Museum Kereta
Api Ambarawa
Sebenarnya museum kereta api Ambarawa ini
dahulunya adalah sebuah stasiun kereta api yang beralih fungsi menjadi sebuah
museum. Itulah kenapa jika Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan sebuah
situasi bangunan stasiun kuno yang sudah direnovasi, berbentuk peron stasiun
peninggalan jaman Belanda, lengkap dengan lokomotif kereta api dari yang sangat
kuno hingga yang modern.
Yang unik dari museum kereta api di Ambarawa ini, adalah
masih adanya kereta api uap dengan lokomotif B 2502 dan B 2503 buatan
Maschinenfabriek Esslingen yang masih dapat berfungsi dengan baik. Kereta api
ini sendiri sekarang difungsikan sebagai kereta api wisata. Kereta api ini
dilengkapi gerigi sehingga mampu menanjak hingga kemiringan tertentu, dan
merupakan salah satu dari 3 kereta api uap bergerigi yang masih ada di dunia,
yaitu di India dan Swiss.
Di museum
ini , Anda dapat melihat sebanyak 21 lokomotif uap dari berbagai jenis
seri dan pabrikan. Anda juga dapat menemukan sebuah telpon antik yang dulu
pernah digunakan, juga terdapat peralatan kuno untuk telegram morse. Pendek
kata di museum ini Anda dapat melihat perkembangan kereta api hingga berkembang
seperti sekarang ini.
Satu hal yang membanggakan adalah museum kereta api
Ambarawa ini tercatat sebagai museum kereta api terbesar di Asia Tenggara,
karena memiliki koleksi kereta api uap terlengkap. Dan juga dapat menikmati
sensasi naik kereta api uap jaman kuno, lengkap dengan suaranya yang berisik dan
penuh asap. Tak ada AC , hanya fasilitas jendela yang benar benar terbuka, di
tengah tengah sawah dan ladang dengan latar belakang rawa pening , Gunung
Merbabu dan Gunung Ungaran , sungguh merupakan sebuah pengalaman yang membawa
kenangan tersendiri.
BAB III
PENGGUNAAN
MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
3.1 REFERENSI DESAIN
PEMBELAJARAN
Dalam
menyusun desain pembelajaran laporan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan ini kami
menggunakan desain pembelajaran model. Gerlach
dan Ely yang dimana model pengembangan intruksional yang dikembangkan oleh
Gerlach dan Ely ini dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurutnya
langkah-langkah dalam pengembangan intruksional terdiri dari :
1. Merumuskan tujuan
intruksional
2. Menentukan isi matei
pelajaran
3. Menentukan kemampuan
awal peserta didik
4. Menentukan teknik dan
strategi
Strategi
merupakan pendekatan yang dipakai guru dalam memanifulasi informasi, memilih
sumber-sumber, dan menentukan tugas/ peran peserta didik dalam kegiatan belajar
mengajar. Jadi tahap ini guru harus menekankan untuk dapat mencapai tujuan
intruksioanl secara baik.
Ø Pengelompokan
belajar
Ø Menentukan
pembagian waktu
Dalam langkah ini guru harus
melakukan alokasi waktu penyajian suatu strategi dan teknik yang digunakan.
Ø Menentukan
ruang
Dalam menentukan ruang harus
memperhatikan jumlah peserta didik dan strategi yang digunakan.
Ø Memilih
media intruksional yang sesuai
Pemilihan media ini harus menunjang pencapaian tujuan intruksional dan
sesuai dengan strategi dan teknik yang digunakan.
Ø Mengevaluasi
hasil belajar
Untuk menilai sejauh mana tujuan intruksioanal tercapai, maka evaluasi di
kembangkan berdasarkan tujuan intruksional.
Ø Menganalisis
umpan balik
Hal ini dilakukan dalam rangka untuk menyempurnakan perbaikan
intruksional.
Desain pembelajaran merupakan
prinsip-prinsip penerjemahan dari pembelajaran dan instruksi ke dalam
rencana-rencana untuk bahan-bahan dan aktivitas-aktivitas instruksional (Smith
and Ragan, 1993). Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa disain pembelajaran
dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berisi banyak komponen yang saling
berinteraksi. Komponen-komponen tersebut harus dikembangkan dan
diimplementasikan untuk kelengkapan suatu instruksional.
Sistem pengembangan instruksional
sering kali direpresentasikan sebagai model grafik. Beberapa tahun terakhir
sejumlah model disain pembelajaran diperkenalkan oleh beberapa ahli/tokoh.
Gentry mengatakan bahwa model disain pembelajaran adalah suatu representatif
gafik tentang suatu pendekatan sistem, yang dirancang untuk memfasilitasi
pengembangan yang efektif dan efisien dari pembelajaran. Tujuan dari disain
pembelajaran yaitu membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dan
mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran (Morrison, Ross, dan Kemp, 2007)
Desain
pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah
pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus
teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Mengandung
arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep
pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.
Desain pembelajaran dapat dimaknai
dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai
sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas
berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan
pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan
ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta
pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam
skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan
kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem
pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk
meningkatkan mutu belajar.
Dengan demikian dapat disimpulkan
desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan
isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif
antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari
pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang
"perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi.
Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah
teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru,
atau dalam latar berbasis komunitas.
3.2 TAHAP ANALISIS
1.
Analisis
Kondisi Lingkungan Peserta Ajar
(Pembelajar)
a. Formal
(Siswa di Sekolah)
Masalah penting yang sering dihadapi
guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan materi
pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai
kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau
silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk
“materi pokok”. Menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut
sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Selain itu, bagaimana cara
memanfaatkan bahan ajar juga merupakan masalah. Pemanfaatan dimaksud adalah
bagaimana cara mengajarkannya ditinjau dari pihak guru, dan cara mempelajarinya
ditinjau dari pihak murid.
Berkenaan dengan pemilihan bahan ajar
ini, secara umum masalah dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi,
kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap
materi pembelajaran, dsb. Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah
memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber
bahan ajar dititikberatkan pada buku. Padahal banyak sumber bahan ajar selain
buku yang dapat digunakan. Bukupun tidak harus satu macam dan tidak harus
sering berganti seperti terjadi selama ini. Berbagai buku dapat dipilih sebagai
sumber bahan ajar.
Termasuk masalah yang sering dihadapi guru
berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi
pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu
dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang
tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa. Berkenaan dengan
buku sumber sering terjadi setiap ganti semester atau ganti tahun ganti buku.
Sehubungan dengan itu, perlu disusun
rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu guru agar mampu
memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat.
Rambu-rambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi
pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah
pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran. Proses kegiatan belajar
mengajar di awali dari guru, yang meliputi proses Pelaksanaan pembelajaran
selama ini dilakukan dengan melalui proses yang harus berkesinambungan. Proses
penyusunan desain instruksional pemilihan materi pelajaran (content selection)
dilakukan setelah topik di pilih, tujuan instruksionlakhusus di rumuskan
setelah alat evaluasi (tes) di tentukan. Ketepatan materi dan sumber di mana
materi tersebut diperoleh, begitupun prosedur pemilihan sangat penting dikuasai
oleh para guru dan dosen.
Kegiatan
belajar siswa di dasarkan atas bahan pelajaran (materi pelajaran), materi
pelajaran ini mendukung tercapainya kompetensi dasar. Yang di maksud dengan
Materi/bahan pembelajaran (menurut Kemp, 1977:44), materi pelajaran dalam
hubungan dengan proses penyusunan design instruksional merupakan gabungan
antara pengetahuan, fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan
(langkah-langkah, prosedur, keadaan, dan sayarat-syarat) dan faktor sikap
b. Non Formal (Masyarakat
Umum)
Pendidikan
berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari demokratisasi pendidikan melalui
perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan
berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus
belajar sepanjang hayat dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berubah-ubah
dan semakin berat.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat
adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari
masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari
masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat.
Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subjek/pelaku
pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran
dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Sedangkan pengertian
pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua
program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat
dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk
mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang
diperlukan secara spesifik didalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
2.
Analisis
Karakteristik Pembelajar
a. Siswa di
Sekolah
Pengertian
karakter sebagai penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai
(benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter
berbeda dengan kepribadian karena pengertian kepribadian dibebaskan dari
nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter
berwujud tingkah laku yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif
permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.
Berdasarkan pengertian diatas jika dihubungkan dengan pendidikan maka analisis
karakter adalah kegiatan yang dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik
siswa dan prilaku awal siswa terhadap kemampuan siswa dalam bidang ilmu atau
mata pelajaran yang akan diberikan. Menurut (Setiawan, 2007), “ analisis yang perlu
dilakukan adalah mengidentifikasi perilaku awal siswa yang berikatan dengan
penguasaan siswa dalam isi mata pelajaran dan mengenali karakteristik siswa
yang meliputi asal, usia, bahasa yang digunaka, latar belakang ekonomi keluarga
dan sebagainya.
b. Masyarakat
Umum
Kontribusi pendidikan dalam
meningkatkan sumber daya manusia dapat diketahui dari keberhasilan pendidikan
yang telah dilakukan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang
mempunyai proses belajar terencana, teratur, terawasi dan dipimpin oleh orang
yang bertanggung jawab serta memiliki tujuan tertentu yang akan dicapai, dengan
demikian keberhasilan pendidikan khususnya pendidikan formal dapat dilihat dari
pencapaian prestasi yang diperoleh. dalam kegiatan belajar mengajar, lingkungan
merupakan sumber belajar yang banyak memberikan pengaruh dalam proses belajar
mengajar,selain itu dalam diri siswa sebagai peserta didik sangat diperlukan
adanya motivasi, karena motivasi tidak hanya menjadi penyebab utama belajar,
namun juga memperlancar belajar dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
prestasi belajar juga dipengaruhi oleh karakteristik siswa. pemahaman perbedaan
karakteristik antar peserta didik akan sangat bermanfaat untuk pendidikan,
utamanya dalam membantu setiap peserta didik mengembangkan kepribadiannya.
3. STRATEGI
PENGORGANISASIAN MATERI
a. Strategi
Pengorganisasian pada CD untuk masyarakat
Dalam memanfaatkan media salah satu
karakterisitik yang perlu diperhatikan adalah media itu mudah diperoleh, atau
setidak–tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Contoh media yaitu
seperti CD, umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal, di samping
sederhana dan praktis penggunaannya.
Keterampilan guru dalam menggunakan berbagai jenis
media yang diperlukan, syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam
proses pembelajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi
dampak dari penggunaannya oleh
guru pada saat terjadi interaksi belajar
siswa dengan lingkungan. Adanya OHP, proyektor film, computer dan
alat–alat canggih lainnya, bila digunakan dengan baik, maka dapat mempertinggi
kualitas pengajaran.
Tersedianya
waktu untuk menggunakannnya sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa
selama pengajaran berlangsung. Seorang guru dalam hal memilih media untuk
pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa,
sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.
Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk persen
bagi siswa sekolah kelas rendah tidak ada manfaatnya. Mungkin lebih tepat
dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan
alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi siswa yang
telah memiliki kadar berfikir tinggi.
Dengan
kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media
mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas–tugasnya. Kehadiran
media dalam proses pembelajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas
guru, tetapi harus sebaliknya mempermudah tugas guru dan pemahaman siswa
terhadap materi yang diajarkan. Karena itu media bukanlah suatu keharusan bagi
guru,tetapi sebagai pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas
mengajar.
Secara filosofis hakekat pemanfaatan CD pembelajaran dengan
materi yang disajikan pentingnya untuk masyarakat merupakan suatu pemahaman
pembelajaran yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat dan masyarakat gampang
paham akan media pembelajaran yang bersifat CD atau vudei dan lainnya, karena
secara psikologis dalam pendangan mataa masyarakat meraka bisa tau apa yang
dilakukan oleh atau yang diterangkan dalam sebuah video karena didalamnya
terdapat cara-cara bagaimana masyarakat menikmati media pembelajaran secara
asik.
b. Strategi Pengorganisasian pada sesi Pembelajaran di
Kelas
Strategi
pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok
siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
Strategi pembelajaran
ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajran yang berorientasi
kepada guru, dikatakan demikian sebab dalam strategi ini guru memegang peranan
yang sangat penting atau dominan.
Dengan
menggunakan strategi ekspositori
terdapat beberapa keunggulan dan kelemahan di dalam menggunakan strategi ini,
yaitu:
Ø Keunggulan / Kelebihan Strategi Ekspositori
1.
Dengan strategi
pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi
pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai
bahan pelajaran yang disampaikan.
2.
Strategi pembelajaran
ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus
dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar
terbatas.
3.
Melalui strategi
pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan
(kuliah) tentang suatu materi pelajaran juga sekaligus siswa bisa melihat atau
mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
4.
Keuntungan lain
adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran
kelas yang besar.
Secara umum
media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
1.
Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu
bersifat verbalistis (dalam bentuk
kata-kata
tertulis atau lisan belaka).
2.
Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera,
seperti misalnya:
a. Objek
yang terlalu besar, bisa digantikan dengan realita, gambar, film
bingkai,
film, atau model;
b. Objek
yang kecil-dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau
gambar;
c. Gerak
yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan
timelapse
atau high-speed photography;
d. Kejadian
atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi
lewat
rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal;
e. Objek
yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan
dengan
model, diagram, dan lain-lain, dan
f. Konsep
yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-
lain) dapat
di visualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-
lain.
Dalam tinjauan
filosofis media pembelajaran menggunakan CD ini sangat memudahkan siswa lebih
cepat memahami proses pembelajaran dan selain itu siswa bisa menggunakaannya
dimana sajah selagi masih ada tempat dimana CD itu bisa diputar dan di tonton
oleh siswa secara seksama. Ada suatu pandangan
bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam
kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata
lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi.
Bukankan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai
banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik
pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi
kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan
kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting
bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru
menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki keprbadian, harga diri, motivasi,
dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik
menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang
dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
3.3 DATA EVALUASI KUALITAS CD
A. Petunjuk Pengisian:
Evaluasi
terdiri dari:
1.
Aspek Kualitas Tampilan
2.
Aspek Penyajian Materi
3.
Aspek Interaksi Pemakai dan Program
a. Beri tanda silang (x) pada kolom 1,2,3, dam 4
sesuai dengan pendapat anda secara objektif
b. Kriteria penilaian sebagai berikut:
Skor 5 apabila pernyataan (sangat jelas,
Sangat Bagus, atau sangat baik)
Skor 4 apabila pernyataan (jelas, bagus atau
baik)
Skor 3 apabila pernyataan (kurang jelas,
kurang bagus atau kurang baik)
Skor 2 apabila pernyataan (tidak jelas, tidak
bagus atau tidak baik)
Skor 1 apabila pernyataan (sangat tidak jelas, sangat
tidak bagus, sangat tidak baik)
B. UJI KUALITAS TAMPILAN
|
NO
|
PERNYATAAN
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
|
Kejelasan Petunjuk penggunaan CD/Program
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Keterbacaan teks/tulisan
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Kualitas tampilan gambar
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Komposisi warna
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Kejelasan Sajian animasi/video/visual
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Kejelasan Audio/suara
|
|
|
|
|
|
C. PENYAJIAN MATERI
|
NO
|
PERNYATAAN
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
|
Kejelasan Tujuan Pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Kejelasan Petunjuk Belajar (Skema, Gambar, dan Teks)
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Kejelasan Presentasi Penyaji/Guru
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Kelengkapann penyajian materi
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Kemudahan memahami kalimat pada teks tulisan
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Kemudahan memahami materi (isi) pokok bahasan
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Ketepatan urutan penyajian
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Kecukupan latihan (test)
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Kejelasan perintah latihan soal-soal
|
|
|
|
|
|
D. INTERAKSI PEMAKAI DAN PROGRAM
|
NO
|
PERNYATAAN
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
|
Program dapat dijalankan tanpa harus dibantu orang
lain
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Urutan tampilan (dapat maju atau mundur)
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Terdapat menu pilihan sehingga dapat memilih
kegiatan sub topic bahasan yang diminati
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Dapat masuk dan keluar (exit) program setiap saat
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Pada akhir pokok bahasan tersedia soal test
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Program menyajikan
hasil skor pencapaian hasil belajar
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Umpan balik segera diberikan setelah siswa menjawab
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Bila jawaban salah diberitahu jawaban benar
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Materi dapat di ulang setiap saat sehingga
meningkatkan/memperkuat daya ingat
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Program mampu memberikan pilihan pencabangan
tampilan materi
|
|
|
|
|
|
Petunjuk :
- Masing-masing peserta wajib mengajak responden
nya dalam acara Uji produk/seminar hasil sebanyak 10 orang terdiri dari:
1.
3 orang siswa
2.
2 orang masyarakat
3.
5 orang mahasiswa
Jumlah = 10 peserta
- Waktu dan tempat Uji Produk/Seminar akan
disepakati dan ditentukan bersama
- Hasil dari
masing-masing data responden dihitung dengan menggunakan teknik skala
linkert
(Teknik terlampir)
BAB IV
PENUTUP
3.1 Simpulan
Di Indonesia, banyak sekali peninggalan
besejarah berupa bangunan. Dalam perjalanan sejarah dapat disarikan bahwa
sejarah perjuangan bangsa indonesia mempunyai peran penting dalam meningkatkan
jiwa dan semangat serta memperkuat jati diri bangsa dalam mencapai tujuan
nasional. Selain itu sejarah merupakan suatu hal yang dapat merubah kehidupan
karena hidup manusia selalu ada perubahan yang berkaca dari sejarah maka
“jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah (Boeng Karno)”
Karena dengan belajar sejarah masyarakat
bangsa diharapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi
masa depan sehingga dengan mengunjungi sebuah museum di antaranya adalah
1. Candi
Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu
yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa
Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini
terdapat sembilan buah candi
2. Monumen
Palagan Ambarawa yang merupakan salah satu bentuk penghargaan untuk mengenang
pertempuran besar melawan para penjajah pada saat itu dimana banyak sekali
rakyat yang tewas dalm pertempuran tersebut dan sampai sekarang pun tanggal 15
Desember selalu diperingati sebagai hari Infanteri.
3. Ambarawa
yang merupakan salah satu kota lokomotif tertua di Indonesia. Museum Ambarawa
yang dahulunya merupakan sebuah stasiun kereta api adalah salah satu bukti yang
mampu menceritakan kejayaan dunia perkereta apian di Indonesia. Meskipun
stasiun ini telah beralih fungsi menjadi museum tetapi nilai sejarahnya masih
tetap melekat, mulai dari struktur bangunannya samapi tata letak ruangannya
tidak ada yang berubah dari pertama berdiri sampai sekarang keadaannya masih
tetap terjaga, di tambah lagi dengan wisata kereta tuanya.
DAFTAR PUSTAKA
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/04/ciri-media-pembelajaran.html
http://Jun’.blogspot.com/2015/05/pengertian-sejarah-menurut-para-ahli.html