Minggu, 18 Desember 2016

Nama               : Windi Aris Rusdiana, S.Pd
Nim                 : 4322312030018
Prodi               : Pendidikan Sejarah

            Tahun 2012 adalah tahun pertama saya memulai kehidupan dalam dunia baru dengan identitas sebagai mahasiswa. STKIP Setia Budhi Rangkasbitung adalah pelabuhan yang saya pilih untuk berlabuh serta menimba ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Bukan tanpa alasan saya memilih lembaga pendidikan ini karena sebagai tujuan dari pasca menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas. Program studi pendidikan sejarah adalah jurusan yang saya pilih, karena memang sudah menjadi keinginan dan kemauan yang saya cita-citakan semenjak pertama kali menyukai pelajaran sejarah dibangku sekolah menengah atas, maka di sinilah saya ingin mempelajarai sejarah lebih jauh dalam ruang lingkup pendidikan tinggi.
            Empat tahun lamanya saya bersama sahabat-sahabat seperjuangan bergelut melalui sebuah proses pembelajaran yang berbagai macam rasa pernah saya alami dikampus ini, dari mulai iklim belajar, konstelasi kemahasiswaan dan bahkan kontestasi dalam meraih prestasi yang membanggakan, semua itu tidak luput dari sebuah dinamika menjalani proses yang telah memberi arti penting bagi pembangunan konstruksi berfikir dalam rangka membentuk pribadi yang bermanfaat dimanapun kaki berpijak.
            Saya merasa sangat bangga pernah menjadi bagian dan niscaya akan terus menjadi bagian dari keluarga besar STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, karena lembaga ini telah memberikan saya banyak pengalaman berharga yang tentunya sangat berguna bagi pengembangan diri saya ke depan. Terimakasih untuk seluruh civitas academika STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, semoga selalu konsisten menjaga marwah pendidikan yang berbudaya dan berdaya saing. Dan terimakasih pula kepada sahabat-sahabat seperjuangan terutama angkatan 2012, semoga nilai-nilai kebaikan yang didapatkan disini bisa kita dedikasikan untuk bangsa dan negara.
“Selalu jadikan sejarah sebagai referensi, agar kita mampu berintrospeksi untuk masa depan sebagai orientasi” Jayalah kampusku ! Jayalah almamaterku ! Untukmu satu tanah airku !


Rabu, 09 November 2016

Refleksi Hari Pahlawan 10 November 1945 - 10 November 2016

Hari ini, tepat 71 tahun yang lalu Pada 10 November pagi, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran yang dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Dan banyak para pahlawan yang gugur di medan peperangan tersebut.
Hari ini adalah detik-detik seluruh warga Indonesia menantikan Hari Pahlawan yang sudah diambang pintu. Belajar, serta mengetahui seluk beluk tentang sejarah hari Pahlawan, tentunya sangat baik. Karena dengan demikian generasi muda setidaknya mengetahui dan memahami, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak di dapat cuma-cuma dari tangan penjajah. Melainkan dengan menumpahkan darah, barulah para pendahulu kita dapat merebut serta mempertahankan kemerdekaan itu. Tidak ada pembuktian akan cinta tanah air yang lebih besar, dari pada seseorang yang dengan rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya. Oleh karena itu orang-orang yang telah mengorbankan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sudah sangat pantas disebut sebagai Pahlawan bangsa. Tujuh puluh satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 10 November 1945 telah terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan sebuah pertempuran pertama kalinya semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus tahun 1945 yang di Proklamirkan oleh Bung Karno. Untuk itulah peristiwa ini pada akhirnya dikenal dan dijadikan sebagai Hari Pahlawan bagi segenap seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan RI. Tokoh yang tidak boleh dilupakan adalah Bung Tomo yang mampu menggelorakan semangat juang bangsanya. Walaupun pada waktu itu pertempuran dilakukan hanya dengan bermodalkan beberapa pucuk senjata api rampasan dan bambu bambu runcing. Namun semangat juang yang menyala dalam jiwa mereka, telah mampu menghantarkan kita semuanya ditanah yang bebas dari penjajahan. Bangsa Yang Besar adalah Bangsa yang Menghormati Pahlawannya.(Bung Karno). Dan bangsa yang tidak memiliki pahlawan adalah bangsa yang tidak memiliki kebanggaan, serta dapat dianggap bangsa yang tidak memiliki harga diri. Kita boleh berbangga, karena memiliki pahlawan-pahlawan. Namun rasa bangga, tanpa diisi dengan pemahaman tentang arti dan nilai dari kepahlawan itu sendiri, akan menjadi kebanggaan hampa. Pada jaman kemerdekaan ini, kita tidak dituntut untuk mati demi negara. Tetapi bukan pula kita tidak lagi memiliki kewajiban untuk meneruskan cita-cita para pahlawan kita yaitu menciptakan negeri Indonesia yang adil dan sejahtera. Hal inilah yang patut menjadi perhatian kita semuanya, apakah gaungan nilai-nilai kepahlawanan itu masih bergema dalam jiwa kita, ataukah yang tersisa hanyalah acara seremonial ? Setahun sekali menggerek bendera Merah Putih setengah tiang dan kemudian upacara dan selesailah sudah seluruh rangkaian acara. Setiap tahun puluhan artikel membahas dan mengajak kita untuk memahami arti dan makna dari nilai-nilai kepahlawanan tersebut, namun pada kenyataannya semakin lama semakin kabur . 71 tahun sudah Indonesia merdeka, namun tidak ada yang berubah. Memang kita sudah merdeka dari penjajahan Belanda. Namun penjajahan dalam bentuk lain masih tetap berlangsung seperti kemalasan kebodohan yang menimbulkan perpecahan sikap apatis akibat jiwa yang terbelenggu, maka setiap pembahasan serta ajakan berubah semakin hari semakin meredup sehingga gaungnya tidak lagi bergema dari hari ke hati. Segala upaya untuk mencerahkan dan membahas ulang tentang arti dan makna dari nilai-nilai luhur seorang pahlawan menjadi meluntur dan mati. Pidato-pidato perubahan hanya menjadi semacam foto copy atau rekaman ulang yang tidak bermakna lagi. Bertanya Pada Diri Sendiri. Siapa yang seharusnya mengajak kita semuanya untuk mengaplikasikan serta menerapkan nilai kepahlawanan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat ? Ataukah tidak ada secercah harapan lagi yang bisa kita harapkan untuk mendapatkan contoh teladan bagaimana sebenarnya arti kepahlawanan itu di manifestasikan dalam jaman kemerdekaan ini, keinginan hati untuk mengubah wajah Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur memang sangatlah menakjubkan. Tetapi segala sesuatu perubahan yang ingin kita lakukan selalu harus diawali dengan diri kita terlebih dulu. Tanpa itu, maka cita-cita kebangsaan seluhur apapun akan tetap menjadi impian kosong. Apa yang kira-kira anda dan saya atau kita semuanya sudah lakukan untuk mewudjudkan impian para Pahlawan kita, sehingga menjadi kenyataan? Apa lagi yang dapat saya lakukan untuk melanjutkan cita-cita luhur para pahlawan kita? Atau mampukah kita semuanya menjadi titipn harapan bagi para Pahlawan kita ? Atau barangkali kita lupa pesan Bung Karno:" Aku titip negeri ini padamu" Kalau kita bertanya pada rumput yang bergoyang tidak akan ditemui jawabannya disana. Mari kita tanya hati kita masing masing. Selama 71 tahun lamanya, para Pahlawan kita sudah menghantarkan kita mendiami “tanah terjanji” yaitu negara Indonesia yang merdeka, namun kita hanya menerimanya tanpa berbuat sesuatu yang memadai untuk mewujudkan impian Pahlawan kita yaitu Indonesia yang adil dan makmur. Bahkan tidak sedikit orang orang yang menodainya dengan cara-cara yang sangat melukai harkat diri kita sebagai bangsa yang berdaulat. Semoga kekuatan energi para pahlawan ini mampu menggerakkan hati dan jiwa kita untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan diri masing-masing. Sehingga tidak malu kita berdiri di depan Bendera Sang Saka Merah Putih karena kita sudah berbuat sesuatu untuk mengisi kemerdekaan ini.

Kamis, 26 November 2015

Laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Ke Candi Gedong Songo, Semarang



BAB  I
PENDAHULUAN
1.1 Dasar Pemikiran
Sejarah selalu memiliki nilai tukar bagi kehidupan manusia. Sejarah memiliki nilai tukar karena dapat memberikan kearifan bagi yang mempelajarinya. Melalui sejarah dapat dilakukan pewarisan nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi masa kini. Dari pewarisan nilai-nilai itulah akan menumbuhkan kesadaran sejarah, yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk membentuk suatu karakter seseorang yang mandiri. Penelitian sejarah diperlukan untuk memahami realitas masa lampau suatu kelompok masyarakat pada tempat tertentu. Sejarah mempelajari aktor sejarah manusia yang sebenarnya. Edwar Hallet Carr menyatakan, bahwa “Sejarah merupakan proses interaksi yang tidak henti-hentinya antara sejarawan dengan fakta dan merupakan pula dialog yang tidak pernah berakhir antara masa sekarang dengan masa lampau
Penelitian sejarah tidak lepas dengan kepentingan masa kini dan masa datang sehingga dalam memahami masa kini atas dasar peristiwa atau perkembangan di masa lalu. Hasil penelitian sejarah dapat mendorong dan menjadi bahan pengetahuan terapan-terapan, seperti bagaimana masyarakat dulu telah menemukan teknik konstruksi bangunan tahan gempa dan ramah lingkungan, seperti beberapa komplek percandian di Jawa. Candi merupakan salah satu bangunan warisan budaya masa lalu yang merepresentasikan keluhuran dan ketinggian budaya masyarakat. Sebagai calon guru sejarah, mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung harus profesional sehingga mampu mengadaptasi kerumitan di lapangan.

1.2 Maksud dan Tujuan
a. Meningkatkan wawasan keilmuwan tentang konsep dasar pengetahuan sejarah sebagai kerangka berpikir dalam mempersiapkan pemahaman disiplin ilmu sejarah melalui Kuliah Kerja Lapangan terstruktur dan terbimbing.
b. Meningkatkan pemahaman dan wawasan pengetahuan tentang prosedur penelitian dan penulisan sejarah serta permasalahannya.
c. Memotivasi untuk mengembangkan pemahaman terhadap perkembangan sejarah budaya melalui observasi faktual hasil-hasil peradaban masa silam.
d. Menjadikan peserta Kuliah Kerja Lapangan memahami wawasan keilmuan berdasarkan kerangka berfikir yang kritis, analitis, sistemik dan kronologis dalam memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
e. Mahasiswa mampu mengembangkan bahan ajar serta menghasilkan sebuah prodak yang bernilai mahal.

1.3 Obyek Studi
No
Situs
Lokasi
Deskripsi
1
Candi Gedong Songo
Kab. Semarang, Jawa Tengah

2
Monumen Palagan Ambarawa
Kab. Semarang, Jawa Tengah

3
Museum Kereta Api Amarawa
Kab. Semarang, Jawa Tengah


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Candi Gedong Songo
            Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, di Kecamatan Bandungan, dan masuk dalam kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tepatnya candi gedong songo terletak di lereng Gunung Ungaran. Di area candi ini terdapat sembilan buah candi. Kata gedong songo berasal dari bahasa jawa, gedong berarti bangunan atau rumah, dan songo berarti sembilan. Jadi gedong songo berarti sembilan (kelompok) bangunan.

Lokasi 9 buah banguna candi ini tersebar di lereng Gunung Ungaran yang memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi candi gedong songo juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut tipis yang turun dari atas gunung sering muncul, hal ini mengakibatkan kita sulit untuk memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi gedong songo ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di daerah Wonosobo. Candi gedong songo ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Ha ini mengakibatkan suhu udara di kawasan candi gedong songo ini cukup dingin.
Candi gedong songo sendiri diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi). Komplek Candi Gedong Songo ini dibangun oleh Putera Sanjaya, seorang Raja Mataram Kuno pada sekitar abad 7 masehi. Dilihat dari arsitektur dan pendirinya yang beragama hindu, candi gedong songo dipastikan merupakan candi hindu yang dibangun untuk tujuan pemujaan. Di candi gedong songo terdapat beberapa patung dewa seperti Syiwa mahaguru, Syiwa Mahakala , Syiwa Mahadewa, Durgamahesasuramardhani dan Ganesya. Candi gedong songo ini dijadikan tempat pemujaan bagi umat hindu. Di dalam kompleks candi gedong songo ini Juga ditemukan Lingga dan Yoni yang merupakan ciri khas dari candi hindu di Indonesia.
Candi Gedong Songo mempunyai karakter Aura Alam Ghaib yang sangat kuat dan mistik. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, komplek candi ini terdiri atas sembilan buah candi, yang berderet dari bawah ke atas yang dihubungkan dengan jalan setapak bersemen. Satu bangunan Candi yang berada dipuncak paling tinggi disebut puncak Nirwana. Dilokasi sekitar candi gedong songo ini juga teerdapat bukit Kendalisodo dan Gua tempat Hanoman bertapa.

A. Candi Gedong Songo – Candi Gedong 1
Candi gedong 1 merupakan salah satu candi didalam kompleks candi gedong songo yang berupa sebuah bangunan candi utuh. Candi gedong 1 berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu besar dengan ketinggian sekitar 4 hingga 5 meter. Candi ini berdiri diatas sebuah batur atau kaki candi setinggi 1 meter yang dihiasi dengan pahatan relief sulur dan pahatan bunga atau padma disekelilingnya. Pada bagian dalam badan candi terdapat sebuah ruangan sempit, sementara pada bagian luarnya terlihat polos tanpa relief, pada bagian luar candi hanya terdapat pahatan sederhana yang berbentuk bunga seperti bingkai yang kosong dibagian tengahnya.

B. Candi gedong songo – candi gedong II
Candi gedong II berdiri diatas sebuah batur yang berbentuk bujur sangkar dengan luas 2,2 m persegi dan tinggi 1 meter. Pada bagian atas batur memebentuk selasar dengan lebar setengah meter yang mengelilingi candi. Pada badan candi dibagian sisi luar di ketiga dindingnya terdapat ceruk kecil sebagai tempat untuk meletakan arca. Ceruk ini dihiasai dengan dua kepala naga pada bagian bawahnya dan kalamakara pada bagian atas. Pada bagian luar ceruk dihiasi dengan pahatan pola kertas tempel. Pada bagian atas candi hanya terlihat reruntuhannya saja. Dibagian depan candi terdapat sebuah reruntuhan bangunan candi kecil yang dikenal dengan nama candi perwara yang memiliki fungsi seakan-akan sebagai penjaga.

C. Candi gedong songo – candi gedong III
Candi gedong tiga merupakan sebuah kelompok candi yang terdiri dari 3 buah candi besar. 2 buah candi besar menghadap ke timur dan terlihat seperti candi kembar dan berbentuk seperti candi gedong II. Disamping pintu mamsuk 2 candi ini terdapat relung yang berisi arca Siwa denagn posisi berdiri dengan gada panjang di tangan kanannya. Sedangkan sebuah candi yang lainnya menghadap ke arah barat dengan ukuran yang lebih kecil. Candi kecil ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Pada dinding candi utama terdapat relung yang berisi arca Ganesha dan Durga bertangan 8.

D. Candi gedong songo – candi gedong IV
Candi gedong IV terdiri dari sebuah candi utama dan beberapa reruntuhan candi di sekitarnya yang kemungkinan merupakan candi perwara. Pada candi utama memiliki bentuk seperti candi gedong II dengan batur setinggi 1 meter dan selasar selebar setengah meter di sekelilingnya. Di bagian dinding sebelah luar terdapat bilik penampil dengan relung yang berisi arca yang sudah rusak.

E. Candi gedong V
Candi gedong V terdiri dari sebuah candi utama dan sejumlah reruntuhan candi sekitarnya yang diduga sebagai candi perwara. Candi gedong V berbentuk mirip dengan candi gedong II. Pada dindning luar candi gedong V terdapat relung yang berisi arca Ganesha denga posisi duduk bersila. Diantara candi gedong III dan candi gedong IV terdapat sebuah pemandian air panas. Pemandian air panas ini terletak dikepunden gunung yang memiliki sumber air panas dengan bau belerang yang sangat menyengat

2.1.1 Monumen Palagan Ambarawa
Setelah mengunjungi Museum Palagan Ambarawa, saya pun berjalan mengelilingi Monumen Palagan Ambarawa yang cukup teduh sambil memotret monumen serta beberapa persenjataan dan kendaraan militer dan sipil yang digunakan dalam pertempuran Palagan Ambarawa yang bersejarah itu. Sebuah pertempuran heroik antara yang mengikuti perintah komandan dan mereka yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara tercintanya. Pertempuran atau Palagan Ambarawa berlangsung mulai 2 Desember 1945 pada jam 4.30 pagi dengan bunyi sebuah tembakan sebagai aba-aba bagi para pejuang Indonesia yang sudah berada di posisinya masing-masing di sekitar kota Ambarawa untuk memulai serangan mendadak terkoordinasi di semua sektor pertempuran. Tentara sekutu akhirnya dikalahkan dan meninggalkan Ambarawa pada 15 Desember 1945 jam 5.30 sore. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Infanteri, yang kemudian diganti menjadi Hari Juang Kartika. Waktu telah berulangkali membuktikan bahwa apa yang dahulu terasa sangat pahit dan menyakitkan bisa berubah menjadi sangat manis untuk dikenang bertahun kemudian. Sama halnya, apa yang begitu manis bertahun lalu, bisa terasa sangat menyakitkan hari ini. Karenanya, akan bijaksana untuk selalu mengingat paradoks hidup ketika sesuatu terjadi, baik atau pun buruk.
Monumen Palagan Ambarawa ini dibangun pada tahun 1973 dan diresmikan pada 15 Desember 1974 oleh, ketika itu, Presiden Soeharto. Gambaran singkat sejarah pertempuran bisa dilihat pada relief yang dibuat pada dinding monumen. Selain monumen, di sekitar kompleks yang cukup luas ini pengunjung juga bisa melihat instalasi koleksi benda bersejarah yang pernah berperan atau mengambil bagian dalam peristiwa Palagan Ambarawa.
Di sisi sebelah kiri Monumen Palagan Ambarawa terdapat sebuah lokomotif kereta api yang masih terlihat utuh dan cantik, dan sebuah gerbong penumpang di belakangnya. Seorang anak tampak tengah bermain di depan loko, sementara si ibu muda hendak naik ke gerbong penumpangnya di ujung sana. Pada badan gerbong kereta api dengan warna dominan hijau dan krem itu terdapat beberapa buah tulisan slogan perjuangan yang membakar semangat tempur, seperti: “Merdeka atau Mati!” atau “Hantjoerkan Moesoeh Kita”.
Melangkah lagi ke sebelah kanan belakang Monumen Palagan Ambarawa terdapat dua buah truk militer berwarna hijau tua yang dipergunakan dalam pertempuran Ambarawa. Kecepatan pergerakan tentara dalam melakukan serangan serta gangguan dan penghadangannya merupakan salah satu elemen keberhasilan dalam berbagai pertempuran. Selain itu truk militer juga digunakan dalam membawa logistik makanan, amunisi dan perlengkapan militer lainnya.
Tidak jauh dari kedua truk militer itu terdapat instalasi senjata anti pesawat udara yang dirampas dari tentara Jepang, dan dipergunakan oleh para pejuang dalam Palagan Ambawara melawan tentara sekutu. Selanjutnya di sisi paling kanan Monumen Palagan Ambarawa terdapat koleksi pesawat tempur Mustang Belanda yang ditembak jatuh di Rawa Pening oleh tentara Indonesia dalam pertempuran bersejarah itu. Di lapangan terbuka di depan monumen, pengunjung dapat naik becak mini sambil menikmati kesegaran udara kota Ambarawa. Ada beberapa becak mini yang saya lihat tersedia di sana, namun hanya seorang pengayuh yang saat itu ada.
Monumen Palagan Ambarawa adalah obyek wisata sejarah yang anda perlu kunjungi jika memiliki waktu luang ketika berada di kota Semarang. Monumen ini merupakan tengara bagi kota Ambarawa yang sejuk, juga sumber inspirasi dan pengingat bagi bangsa Indonesia akan perjuangan dan pengorbanan para pendahulu dalam menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara.

2.1.2 Museum Kereta Api Ambarawa
Sebenarnya museum kereta api Ambarawa ini dahulunya adalah sebuah stasiun kereta api yang beralih fungsi menjadi sebuah museum. Itulah kenapa jika Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan sebuah situasi bangunan stasiun kuno yang sudah direnovasi, berbentuk peron stasiun peninggalan jaman Belanda, lengkap dengan lokomotif kereta api dari yang sangat kuno hingga yang modern.
Yang unik dari museum kereta api di Ambarawa ini, adalah masih adanya kereta api uap dengan lokomotif  B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen yang masih dapat berfungsi dengan baik. Kereta api ini sendiri sekarang difungsikan sebagai kereta api wisata. Kereta api ini dilengkapi gerigi sehingga mampu menanjak hingga kemiringan tertentu, dan merupakan salah satu dari 3 kereta api uap bergerigi yang masih ada di dunia, yaitu di India dan Swiss.
Di museum ini , Anda dapat melihat  sebanyak 21 lokomotif uap dari berbagai jenis seri dan pabrikan. Anda juga dapat menemukan sebuah telpon antik yang dulu pernah digunakan, juga terdapat peralatan kuno untuk telegram morse. Pendek kata di museum ini Anda dapat melihat perkembangan kereta api hingga berkembang seperti sekarang ini.
Satu hal yang membanggakan adalah museum kereta api Ambarawa ini tercatat sebagai museum kereta api terbesar di Asia Tenggara, karena memiliki koleksi kereta api uap terlengkap. Dan juga dapat menikmati sensasi naik kereta api uap jaman kuno, lengkap dengan suaranya yang berisik dan penuh asap. Tak ada AC , hanya fasilitas jendela yang benar benar terbuka, di tengah tengah sawah dan ladang dengan latar belakang rawa pening , Gunung Merbabu dan Gunung Ungaran , sungguh merupakan sebuah pengalaman yang membawa kenangan tersendiri.

BAB III
PENGGUNAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN

3.1 REFERENSI DESAIN PEMBELAJARAN
Dalam menyusun desain pembelajaran laporan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan ini kami menggunakan desain pembelajaran model. Gerlach dan Ely yang dimana model pengembangan intruksional yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely ini dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurutnya langkah-langkah dalam pengembangan intruksional terdiri dari :
1. Merumuskan tujuan intruksional
2. Menentukan isi matei pelajaran
3. Menentukan kemampuan awal peserta didik
4. Menentukan teknik dan strategi
Strategi merupakan pendekatan yang dipakai guru dalam memanifulasi informasi, memilih sumber-sumber, dan menentukan tugas/ peran peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi tahap ini guru harus menekankan untuk dapat mencapai tujuan intruksioanl secara baik.
Ø  Pengelompokan belajar
Ø  Menentukan pembagian waktu
Dalam langkah ini guru harus melakukan alokasi waktu penyajian suatu strategi dan teknik yang digunakan.
Ø  Menentukan ruang
Dalam menentukan ruang harus memperhatikan jumlah peserta didik dan strategi yang digunakan.
Ø  Memilih media intruksional yang sesuai
Pemilihan media ini harus menunjang pencapaian tujuan intruksional dan sesuai dengan strategi dan teknik yang digunakan.
Ø  Mengevaluasi hasil belajar
Untuk menilai sejauh mana tujuan intruksioanal tercapai, maka evaluasi di kembangkan berdasarkan tujuan intruksional.
Ø  Menganalisis umpan balik
Hal ini dilakukan dalam rangka untuk menyempurnakan perbaikan
intruksional.
Desain pembelajaran merupakan prinsip-prinsip penerjemahan dari pembelajaran dan instruksi ke dalam rencana-rencana untuk bahan-bahan dan aktivitas-aktivitas instruksional (Smith and Ragan, 1993). Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa disain pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berisi banyak komponen yang saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut harus dikembangkan dan diimplementasikan untuk kelengkapan suatu instruksional.
Sistem pengembangan instruksional sering kali direpresentasikan sebagai model grafik. Beberapa tahun terakhir sejumlah model disain pembelajaran diperkenalkan oleh beberapa ahli/tokoh. Gentry mengatakan bahwa model disain pembelajaran adalah suatu representatif gafik tentang suatu pendekatan sistem, yang dirancang untuk memfasilitasi pengembangan yang efektif dan efisien dari pembelajaran. Tujuan dari disain pembelajaran yaitu membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dan mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran (Morrison, Ross, dan Kemp, 2007)
Desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah  pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Dengan demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.

3.2  TAHAP ANALISIS
1.      Analisis Kondisi Lingkungan Peserta  Ajar (Pembelajar)
a. Formal (Siswa di Sekolah)
Masalah penting yang sering dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk “materi pokok”. Menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Selain itu, bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar juga merupakan masalah. Pemanfaatan dimaksud adalah bagaimana cara mengajarkannya ditinjau dari pihak guru, dan cara mempelajarinya ditinjau dari pihak murid.
Berkenaan dengan pemilihan bahan ajar ini, secara umum masalah dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran, dsb. Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku. Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan. Bukupun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar.
Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa. Berkenaan dengan buku sumber sering terjadi setiap ganti semester atau ganti tahun ganti buku.
Sehubungan dengan itu, perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu guru agar mampu memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat. Rambu-rambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran. Proses kegiatan belajar mengajar di awali dari guru, yang meliputi proses Pelaksanaan pembelajaran selama ini dilakukan dengan melalui proses yang harus berkesinambungan. Proses penyusunan desain instruksional pemilihan materi pelajaran (content selection) dilakukan setelah topik di pilih, tujuan instruksionlakhusus di rumuskan setelah alat evaluasi (tes) di tentukan. Ketepatan materi dan sumber di mana materi tersebut diperoleh, begitupun prosedur pemilihan sangat penting dikuasai oleh para guru dan dosen. Kegiatan belajar siswa di dasarkan atas bahan pelajaran (materi pelajaran), materi pelajaran ini mendukung tercapainya kompetensi dasar. Yang di maksud dengan Materi/bahan pembelajaran (menurut Kemp, 1977:44), materi pelajaran dalam hubungan dengan proses penyusunan design instruksional merupakan gabungan antara pengetahuan, fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan, dan sayarat-syarat) dan faktor sikap
b. Non Formal (Masyarakat Umum)
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subjek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Sedangkan pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik didalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
2.      Analisis Karakteristik Pembelajar
a. Siswa di Sekolah
Pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter  berbeda dengan kepribadian karena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laku yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu. Berdasarkan pengertian diatas jika dihubungkan dengan pendidikan maka analisis karakter adalah kegiatan yang dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik siswa dan prilaku awal siswa terhadap kemampuan siswa dalam bidang ilmu atau mata pelajaran yang akan diberikan. Menurut (Setiawan, 2007), “ analisis yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi perilaku awal siswa yang berikatan dengan penguasaan siswa dalam isi mata pelajaran dan mengenali karakteristik siswa yang meliputi asal, usia, bahasa yang digunaka, latar belakang ekonomi keluarga dan sebagainya.

b. Masyarakat Umum
Kontribusi pendidikan dalam meningkatkan sumber daya manusia dapat diketahui dari keberhasilan pendidikan yang telah dilakukan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang mempunyai proses belajar terencana, teratur, terawasi dan dipimpin oleh orang yang bertanggung jawab serta memiliki tujuan tertentu yang akan dicapai, dengan demikian keberhasilan pendidikan khususnya pendidikan formal dapat dilihat dari pencapaian prestasi yang diperoleh. dalam kegiatan belajar mengajar, lingkungan merupakan sumber belajar yang banyak memberikan pengaruh dalam proses belajar mengajar,selain itu dalam diri siswa sebagai peserta didik sangat diperlukan adanya motivasi, karena motivasi tidak hanya menjadi penyebab utama belajar, namun juga memperlancar belajar dan pencapaian hasil belajar yang optimal. prestasi belajar juga dipengaruhi oleh karakteristik siswa. pemahaman perbedaan karakteristik antar peserta didik akan sangat bermanfaat untuk pendidikan, utamanya dalam membantu setiap peserta didik mengembangkan kepribadiannya.

3.  STRATEGI PENGORGANISASIAN MATERI
                        a. Strategi Pengorganisasian pada CD untuk masyarakat
Dalam memanfaatkan media salah satu karakterisitik yang perlu diperhatikan adalah media itu mudah diperoleh, atau setidak–tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Contoh media yaitu seperti CD, umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal, di samping sederhana dan praktis penggunaannya. Keterampilan guru dalam menggunakan berbagai jenis media yang diperlukan, syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak   dari   penggunaannya   oleh guru   pada saat terjadi  interaksi    belajar siswa  dengan lingkungan. Adanya OHP, proyektor film, computer dan alat–alat canggih lainnya, bila digunakan dengan baik, maka dapat mempertinggi kualitas pengajaran.
Tersedianya waktu untuk menggunakannnya sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. Seorang guru dalam hal  memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf  berfikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa. Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk persen bagi siswa  sekolah kelas rendah tidak ada manfaatnya. Mungkin lebih tepat dalam bentuk gambar atau poster.  Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi siswa yang telah memiliki kadar berfikir tinggi.
Dengan  kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas–tugasnya. Kehadiran media dalam proses pembelajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tetapi harus sebaliknya mempermudah tugas guru dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Karena itu media bukanlah suatu keharusan bagi guru,tetapi sebagai pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas mengajar.
Secara filosofis  hakekat pemanfaatan CD pembelajaran dengan materi yang disajikan pentingnya untuk masyarakat merupakan suatu pemahaman pembelajaran yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat dan masyarakat gampang paham akan media pembelajaran yang bersifat CD atau vudei dan lainnya, karena secara psikologis dalam pendangan mataa masyarakat meraka bisa tau apa yang dilakukan oleh atau yang diterangkan dalam sebuah video karena didalamnya terdapat cara-cara bagaimana masyarakat menikmati media pembelajaran secara asik.

b. Strategi Pengorganisasian pada sesi Pembelajaran di Kelas
Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajran yang berorientasi kepada guru, dikatakan demikian sebab dalam strategi ini guru memegang peranan yang sangat penting atau dominan.
Dengan menggunakan strategi ekspositori terdapat beberapa keunggulan dan kelemahan di dalam menggunakan strategi ini, yaitu:
Ø  Keunggulan / Kelebihan Strategi Ekspositori
1.      Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
2.      Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
3.      Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
4.      Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
1.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk
kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya:
a. Objek yang terlalu besar, bisa digantikan dengan realita, gambar, film
bingkai, film, atau model;
b. Objek yang kecil-dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau
gambar;
c. Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan
timelapse atau high-speed photography;
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi
lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal;
e. Objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan
dengan model, diagram, dan lain-lain, dan
f.  Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-
lain) dapat di visualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-
lain.
Dalam tinjauan filosofis media pembelajaran menggunakan CD ini sangat memudahkan siswa lebih cepat memahami proses pembelajaran dan selain itu siswa bisa menggunakaannya dimana sajah selagi masih ada tempat dimana CD itu bisa diputar dan di tonton oleh siswa secara seksama. Ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bukankan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki keprbadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.

3.3 DATA EVALUASI KUALITAS CD
A. Petunjuk Pengisian:
      Evaluasi terdiri dari:
1.      Aspek Kualitas Tampilan
2.      Aspek Penyajian Materi
3.      Aspek Interaksi Pemakai dan Program
a. Beri tanda silang (x) pada kolom 1,2,3, dam 4 sesuai dengan pendapat anda secara objektif
b. Kriteria penilaian sebagai berikut:
Skor 5 apabila pernyataan (sangat jelas, Sangat Bagus, atau sangat baik)
Skor 4 apabila pernyataan (jelas, bagus atau baik)
Skor 3 apabila pernyataan (kurang jelas, kurang bagus atau kurang baik)
Skor 2 apabila pernyataan (tidak jelas, tidak bagus atau tidak baik)
Skor 1 apabila pernyataan (sangat tidak jelas, sangat tidak bagus, sangat tidak baik)




B. UJI KUALITAS TAMPILAN
NO
PERNYATAAN
1
2
3
4
5
1
Kejelasan Petunjuk penggunaan CD/Program





2
Keterbacaan teks/tulisan





3
Kualitas tampilan gambar





4
Komposisi warna





5
Kejelasan Sajian animasi/video/visual





6
Kejelasan Audio/suara






C. PENYAJIAN MATERI
NO
PERNYATAAN
1
2
3
4
5
1
Kejelasan Tujuan Pembelajaran





2
Kejelasan Petunjuk Belajar (Skema, Gambar, dan Teks)





3
Kejelasan Presentasi Penyaji/Guru





4
Kelengkapann penyajian materi





5
Kemudahan memahami kalimat pada teks tulisan





6
Kemudahan memahami materi (isi) pokok bahasan





7
Ketepatan urutan penyajian





8
Kecukupan latihan (test)





9
Kejelasan perintah latihan soal-soal






D. INTERAKSI  PEMAKAI DAN PROGRAM
NO
PERNYATAAN
1
2
3
4
5
1
Program dapat dijalankan tanpa harus dibantu orang lain





2
Urutan tampilan (dapat maju atau mundur)





3
Terdapat menu pilihan sehingga dapat memilih kegiatan sub topic bahasan yang diminati





4
Dapat masuk dan keluar (exit) program setiap saat





5
Pada akhir pokok bahasan tersedia soal test





6
Program menyajikan  hasil skor pencapaian hasil belajar





7
Umpan balik segera diberikan setelah siswa menjawab





8
Bila jawaban salah diberitahu jawaban benar





9
Materi dapat di ulang setiap saat sehingga meningkatkan/memperkuat daya ingat





10
Program mampu memberikan pilihan pencabangan tampilan materi





Petunjuk          :
  1. Masing-masing peserta wajib mengajak responden nya dalam acara Uji produk/seminar hasil sebanyak 10 orang terdiri dari:
1.      3 orang siswa
2.      2 orang masyarakat
3.      5 orang mahasiswa
Jumlah = 10 peserta
  1. Waktu dan tempat Uji Produk/Seminar akan disepakati  dan ditentukan bersama
  2. Hasil  dari masing-masing data responden dihitung dengan menggunakan teknik skala linkert
(Teknik terlampir)

                                                                           BAB IV
PENUTUP
3.1 Simpulan
Di Indonesia, banyak sekali peninggalan besejarah berupa bangunan. Dalam perjalanan sejarah dapat disarikan bahwa sejarah perjuangan bangsa indonesia mempunyai peran penting dalam meningkatkan jiwa dan semangat serta memperkuat jati diri bangsa dalam mencapai tujuan nasional. Selain itu sejarah merupakan suatu hal yang dapat merubah kehidupan karena hidup manusia selalu ada perubahan yang berkaca dari sejarah maka “jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah (Boeng Karno)”
Karena dengan belajar sejarah masyarakat bangsa diharapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan sehingga dengan mengunjungi sebuah museum di antaranya adalah 

1.    Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi
2.    Monumen Palagan Ambarawa yang merupakan salah satu bentuk penghargaan untuk mengenang pertempuran besar melawan para penjajah pada saat itu dimana banyak sekali rakyat yang tewas dalm pertempuran tersebut dan sampai sekarang pun tanggal 15 Desember selalu diperingati sebagai hari Infanteri.
3.    Ambarawa yang merupakan salah satu kota lokomotif tertua di Indonesia. Museum Ambarawa yang dahulunya merupakan sebuah stasiun kereta api adalah salah satu bukti yang mampu menceritakan kejayaan dunia perkereta apian di Indonesia. Meskipun stasiun ini telah beralih fungsi menjadi museum tetapi nilai sejarahnya masih tetap melekat, mulai dari struktur bangunannya samapi tata letak ruangannya tidak ada yang berubah dari pertama berdiri sampai sekarang keadaannya masih tetap terjaga, di tambah lagi dengan wisata kereta tuanya.


DAFTAR PUSTAKA
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/04/ciri-media-pembelajaran.html
http://Jun’.blogspot.com/2015/05/pengertian-sejarah-menurut-para-ahli.html


[1] http://Jun’.blogspot.com/2015/05/pengertian-sejarah-menurut-para-ahli.
[2] http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/04/ciri-media-pembelajaran.html.