Kamis, 02 Mei 2013
Kingdom of Heaven
Saladin adalah seorang pahlawan agama yang memerangi suatu ajaran agama kristen... salah satu kerajaan kristen itu adalah yerusalem...
Ratusan ribu tentara Islam berbaris di belakang Saladin. Dari balik gerbang, warga Kristen menanti dengan cemas pertemuan itu. Sebagian Yerusalem sudah hancur. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Di belakang Balian, ribuan Tentara Salib bersiap menyerang. "Ketika Tentara Salib merebut Yerusalem seratus tahun lalu, seluruh Muslim dibantai," Balian mulai pembicaraan.
Saladin tersenyum. Matanya menatap tajam lawan bicaranya. "Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen, bawa pasukan dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak ada pembunuhan," kata Saladin.
"Jika begitu, aku serahkan Yerusalem kepada Anda," balas Balian. Saladin menyalami Balian. Keduanya kembali ke pasukan masing-masing. Warga Kristen dan Tentara Salib menyambut suka cita hasil perundingan dua pemimpin besar itu. Mereka pun memuji-muji dengan meneriakkan nama Balian dan Saladin. Yerusalem pun dikuasai kaum Muslim yang disebut juga Saracen. Tak lama setelah itu, rombongan pengungsian beriring-iringan meninggalkan Yerusalem, termasuk adik raja Baldwin, Sibyll.
Kutipan di atas adalah cuplikan dari film Hollywood berjudul "Kingdom of Heaven" garapan Ridley Scott. Film yang naskahnya ditulis William Monahan itu bercerita Perang Salib terakhir tentang kejatuhan Yerusalem --Kota Kerajaan Surga, tempat pengampunan-- ke tangan Saladin (Ghassan Massoud) dan pasukannya.
Scott mengatakan bahwa dirinya tidak sedang menggelorakan perang suci lain dengan membuat film ini. Ia hanya ingin memberikan fakta bahwa tidak semua orang Barat (Kristen) itu baik, dan tidak semua kaum Muslim itu buruk. "Pemahaman kita atas sejarah masa lalu seperti Perang Salib masih terlalu sedikit," kata pria asal Inggris kelahiran 68 tahun lalu itu. Scott dikenal sebagai sutradara yang mencoba memahami Islam secara utuh. Ia mengaku mengagumi Saladin, sosok yang tidak hanya pandai berperang, tetapi juga mampu berdiplomasi dengan hebat. Ini terlihat dari cara Saladin yang tidak jadi menyerang Yerusalem setelah sekelompok kafilah Muslim dibunuh tentara Kristen.
Pemeran Saladin, Ghassan, aktor asal Suriah, sependapat dengan Scott. Sejak serangan 11 September 2001, kata Ghassan, citra umat Islam tercoreng. Misi film ini untuk membuka pandangan Barat bahwa Islam itu agama damai dan tidak menyukai peperangan. "Saya senang dengan film ini," kata Ghassan. Apalagi, paparnya, film ini disutradarai oleh seorang Ridley Scott yang sukses meraih Piala Oscar untuk film "The Gladiator" (2000).
Kalangan pengritik film di Amerika dan Eropa memberikan penilaian beragam atas kehadiran "Kingdom of Heaven". Ada yang menilai film ini lebih menampilkan Islam sebagai "pemenang" dan positif. Ada juga yang berpendapat Kristen sebagai pihak yang lebih baik dengan penonjolan karakter Balian. Tapi, ada yang mengecam, film ini tidak sesuai sejarah yang sebenarnya.
Hingga pekan kedua ditayangkan di Amerika, film ini masuk nomor satu box office (film laris). Ia mengalahkan "The Interpreter" yang diperankan Nicole Kidman dan Sean Pean. Dalam hitungan hari, "Kingdom of Heaven" telah meraup pendapatan sekitar 20 juta dolar AS.
Film yang diproduksi Twentieth Century Fox itu mencoba mengkritik sepak terjang Presiden George W Bush terhadap perang Irak. Sebagai negara adikuasa yang tak ada tandingannya, kata Ghassan, Bush sebetulnya bisa menggunakan di luar cara perang untuk menyelesaikan persoalan Irak. Semua bisa dilakukan dengan diplomasi seperti yang dilakukan Saladin --yang pada saat itu memiliki kekuasaan hebat.
Selama ini, film-film Hollywood tentang Islam lebih banyak dibumbui cerita-cerita jahat dan licik. Lihat saja di film "Delta Force", "True Lies", dan lainnya. Ada juga yang positif seperti "Lion of The Desert" yang diperankan Anthony Quinn. Kemudian muncul "Kingdom of Heaven".
Cerita "Kingdom of Heaven" diawali dari perjalanan Satria Tentara Salib, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson), dari Prancis menuju Kota Suci (Yerusalem) sambil mencari putranya, Balian (Orlando Bloom). Godfrey akhirnya bertemu dengan Balian dan mengajaknya bertemu Raja Baldwin di Yerusalem.
Godfrey dikenal sebagai seorang satria yang menginginkan perdamaian antara Kristen dan Muslim. Ia sangat mendukung kebijakan Raja Baldwin yang kooperatif dengan Saladin. Raja dan Saladin membuat perjanjian bertoleransi.
Saladin berkomitmen untuk tidak menyerang Yerusalem asalkan umat Muslim tidak diganggu. Padahal, seperti dikatakan Tiberias (Jeremy Irons), tangan kanan Raja Baldwin, Saladin akan dengan mudah menundukkan Yerusalem. "Dia memiliki 200 ribu prajurit siap tempur," kata Tiberias. Tapi, perjanjian dilanggar segelintir satria Kristen. Adalah Guy de Lusignan (Marton Csokas) yang memerintahkan pembunuhan terhadap sekelompok kafilah Muslim. Guy juga menangkap saudara perempuan Saladin dan membunuhnya.
Ketika utusan Saladin meminta jenazahnya, Guy --yang telah terpilih sebagai raja menggantikan Baldwin karena meninggal-- malah memenggal leher utusan itu. Saladin marah dan memerintahkan pasukannya siaga. Pada sisi lain, Guy menyiapkan para tentaranya untuk menyerang Saladin. Pasukan Muslim, dengan berbagai atribut dan senjata, akhirnya menyerbu Yerusalem dan menang.
Saladin lahir di Tikrit, Irak, pada 532 Hijriah (1138 Masehi). Ia bukan Arab, tapi keturunan Kurdi. Ia menguasai ilmu kalam, fikih, Alquran, dan hadis. Sebagian hidupnya habis untuk berperang, dari mulai memadamkan pemberontakan dalam negeri, hingga melawan Tentara Salib.
Saladin memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap umat Kristen. Ketika menguasai Iskandariyah, ia mengunjungi orang-orang Kristen dan mengizinkan mereka berziarah ke Baitulmakdis. Saladin wafat di usia ke-57 tahun tanpa meninggalkan harta benda yang banyak, kecuali beberapa dirham dan dinar.
Film ini juga dibumbui dengan pergolakan batin Balian, Tiberias, dan Godfrey, tentang alasan perang suci. "Kini aku sadar, perang suci bukan karena atas nama Tuhan. Tapi, karena alasan kekayaan dan tanah," kata Tiberias kepada Balian. Film berakhir dengan perginya Balian yang kemudian bertemu Raja Richard yang berjuluk "Hati Singa". Kepada Balian, Richard mengatakan akan kembali merebut Yerusalem.
Rabu, 01 Mei 2013
SEJARAH HARI PENDIDIKAN NASIONAL
NASIONAL
Ki Hadjar Dewantara
Hari Pendidikan Nasional selalu jatuh setiap tanggal 2 Mei tiap tahunnya. Namun apakah Anda tahu sejarahnya mengapa tanggal ini dipilih ?
Tanggal 2 Mei sejatinya adalah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara , beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di Indonesia,berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri,suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Ki Hadjar Dewantara juga suka menulis , banyak tulisannya yang sangat tajam terutama menyindir Belanda , salah satunya adalah Als Ik Eens nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda ) yang salah satu petikannya adalah sebagai “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun“. Karena tulisannya tersebut Ki Hajar Dewantara dibuang ke pulau Bangka namun dipindahkan ke Belanda karena pembelaan Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo , sepulangnya ke Indonesia Ki Hadjar Dewantara membangun Natiaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 yang menjadi awal dari konsep pendidikan nasional. Ki Hadjar Dewantoro akhirnya meninggal pada 28 April 1958 dan Pemerintah menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 1959 sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di bidang pendidikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya , oleh karena itu mari kita menghayati Hari Pendidikan Nasional ini dengan sebaik-baiknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
