Rabu, 09 November 2016

Refleksi Hari Pahlawan 10 November 1945 - 10 November 2016

Hari ini, tepat 71 tahun yang lalu Pada 10 November pagi, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran yang dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Dan banyak para pahlawan yang gugur di medan peperangan tersebut.
Hari ini adalah detik-detik seluruh warga Indonesia menantikan Hari Pahlawan yang sudah diambang pintu. Belajar, serta mengetahui seluk beluk tentang sejarah hari Pahlawan, tentunya sangat baik. Karena dengan demikian generasi muda setidaknya mengetahui dan memahami, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak di dapat cuma-cuma dari tangan penjajah. Melainkan dengan menumpahkan darah, barulah para pendahulu kita dapat merebut serta mempertahankan kemerdekaan itu. Tidak ada pembuktian akan cinta tanah air yang lebih besar, dari pada seseorang yang dengan rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya. Oleh karena itu orang-orang yang telah mengorbankan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sudah sangat pantas disebut sebagai Pahlawan bangsa. Tujuh puluh satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 10 November 1945 telah terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan sebuah pertempuran pertama kalinya semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus tahun 1945 yang di Proklamirkan oleh Bung Karno. Untuk itulah peristiwa ini pada akhirnya dikenal dan dijadikan sebagai Hari Pahlawan bagi segenap seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan RI. Tokoh yang tidak boleh dilupakan adalah Bung Tomo yang mampu menggelorakan semangat juang bangsanya. Walaupun pada waktu itu pertempuran dilakukan hanya dengan bermodalkan beberapa pucuk senjata api rampasan dan bambu bambu runcing. Namun semangat juang yang menyala dalam jiwa mereka, telah mampu menghantarkan kita semuanya ditanah yang bebas dari penjajahan. Bangsa Yang Besar adalah Bangsa yang Menghormati Pahlawannya.(Bung Karno). Dan bangsa yang tidak memiliki pahlawan adalah bangsa yang tidak memiliki kebanggaan, serta dapat dianggap bangsa yang tidak memiliki harga diri. Kita boleh berbangga, karena memiliki pahlawan-pahlawan. Namun rasa bangga, tanpa diisi dengan pemahaman tentang arti dan nilai dari kepahlawan itu sendiri, akan menjadi kebanggaan hampa. Pada jaman kemerdekaan ini, kita tidak dituntut untuk mati demi negara. Tetapi bukan pula kita tidak lagi memiliki kewajiban untuk meneruskan cita-cita para pahlawan kita yaitu menciptakan negeri Indonesia yang adil dan sejahtera. Hal inilah yang patut menjadi perhatian kita semuanya, apakah gaungan nilai-nilai kepahlawanan itu masih bergema dalam jiwa kita, ataukah yang tersisa hanyalah acara seremonial ? Setahun sekali menggerek bendera Merah Putih setengah tiang dan kemudian upacara dan selesailah sudah seluruh rangkaian acara. Setiap tahun puluhan artikel membahas dan mengajak kita untuk memahami arti dan makna dari nilai-nilai kepahlawanan tersebut, namun pada kenyataannya semakin lama semakin kabur . 71 tahun sudah Indonesia merdeka, namun tidak ada yang berubah. Memang kita sudah merdeka dari penjajahan Belanda. Namun penjajahan dalam bentuk lain masih tetap berlangsung seperti kemalasan kebodohan yang menimbulkan perpecahan sikap apatis akibat jiwa yang terbelenggu, maka setiap pembahasan serta ajakan berubah semakin hari semakin meredup sehingga gaungnya tidak lagi bergema dari hari ke hati. Segala upaya untuk mencerahkan dan membahas ulang tentang arti dan makna dari nilai-nilai luhur seorang pahlawan menjadi meluntur dan mati. Pidato-pidato perubahan hanya menjadi semacam foto copy atau rekaman ulang yang tidak bermakna lagi. Bertanya Pada Diri Sendiri. Siapa yang seharusnya mengajak kita semuanya untuk mengaplikasikan serta menerapkan nilai kepahlawanan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat ? Ataukah tidak ada secercah harapan lagi yang bisa kita harapkan untuk mendapatkan contoh teladan bagaimana sebenarnya arti kepahlawanan itu di manifestasikan dalam jaman kemerdekaan ini, keinginan hati untuk mengubah wajah Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur memang sangatlah menakjubkan. Tetapi segala sesuatu perubahan yang ingin kita lakukan selalu harus diawali dengan diri kita terlebih dulu. Tanpa itu, maka cita-cita kebangsaan seluhur apapun akan tetap menjadi impian kosong. Apa yang kira-kira anda dan saya atau kita semuanya sudah lakukan untuk mewudjudkan impian para Pahlawan kita, sehingga menjadi kenyataan? Apa lagi yang dapat saya lakukan untuk melanjutkan cita-cita luhur para pahlawan kita? Atau mampukah kita semuanya menjadi titipn harapan bagi para Pahlawan kita ? Atau barangkali kita lupa pesan Bung Karno:" Aku titip negeri ini padamu" Kalau kita bertanya pada rumput yang bergoyang tidak akan ditemui jawabannya disana. Mari kita tanya hati kita masing masing. Selama 71 tahun lamanya, para Pahlawan kita sudah menghantarkan kita mendiami “tanah terjanji” yaitu negara Indonesia yang merdeka, namun kita hanya menerimanya tanpa berbuat sesuatu yang memadai untuk mewujudkan impian Pahlawan kita yaitu Indonesia yang adil dan makmur. Bahkan tidak sedikit orang orang yang menodainya dengan cara-cara yang sangat melukai harkat diri kita sebagai bangsa yang berdaulat. Semoga kekuatan energi para pahlawan ini mampu menggerakkan hati dan jiwa kita untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan diri masing-masing. Sehingga tidak malu kita berdiri di depan Bendera Sang Saka Merah Putih karena kita sudah berbuat sesuatu untuk mengisi kemerdekaan ini.