Hari ini, tepat 71 tahun yang lalu Pada 10 November pagi, tentara Inggris
melancarkan serangan besar-besaran yang dahsyat sekali, dengan mengerahkan
sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai
bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam
dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan
lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga
berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak
Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan
dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap,
termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang
cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri
dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH.
Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri
mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada
pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada
pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa
bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu
lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak
terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan
waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan
perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan
mempertahankan kemerdekaan. Dan banyak para pahlawan yang gugur di medan
peperangan tersebut.
Hari ini adalah detik-detik seluruh warga Indonesia menantikan Hari
Pahlawan yang sudah diambang pintu. Belajar, serta mengetahui seluk beluk
tentang sejarah hari Pahlawan, tentunya sangat baik. Karena dengan demikian
generasi muda setidaknya mengetahui dan memahami, bahwa kemerdekaan Indonesia
tidak di dapat cuma-cuma dari tangan penjajah. Melainkan dengan menumpahkan
darah, barulah para pendahulu kita dapat merebut serta mempertahankan
kemerdekaan itu. Tidak ada pembuktian akan cinta tanah air yang lebih besar, dari
pada seseorang yang dengan rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan
kemerdekaan negaranya. Oleh karena itu orang-orang yang telah mengorbankan
hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sudah sangat pantas disebut
sebagai Pahlawan bangsa. Tujuh puluh satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 10
November 1945 telah terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan sebuah
pertempuran pertama kalinya semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus tahun
1945 yang di Proklamirkan oleh Bung Karno. Untuk itulah peristiwa ini pada
akhirnya dikenal dan dijadikan sebagai Hari Pahlawan bagi segenap seluruh
rakyat Indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan RI.
Tokoh yang tidak boleh dilupakan adalah Bung Tomo yang mampu menggelorakan
semangat juang bangsanya. Walaupun pada waktu itu pertempuran dilakukan hanya
dengan bermodalkan beberapa pucuk senjata api rampasan dan bambu bambu runcing.
Namun semangat juang yang menyala dalam jiwa mereka, telah mampu menghantarkan
kita semuanya ditanah yang bebas dari penjajahan. Bangsa Yang Besar adalah
Bangsa yang Menghormati Pahlawannya.(Bung Karno). Dan bangsa yang tidak
memiliki pahlawan adalah bangsa yang tidak memiliki kebanggaan, serta dapat
dianggap bangsa yang tidak memiliki harga diri. Kita boleh berbangga, karena
memiliki pahlawan-pahlawan. Namun rasa bangga, tanpa diisi dengan pemahaman
tentang arti dan nilai dari kepahlawan itu sendiri, akan menjadi kebanggaan
hampa. Pada jaman kemerdekaan ini, kita tidak dituntut untuk mati demi negara.
Tetapi bukan pula kita tidak lagi memiliki kewajiban untuk meneruskan cita-cita
para pahlawan kita yaitu menciptakan negeri Indonesia yang adil dan sejahtera.
Hal inilah yang patut menjadi perhatian kita semuanya, apakah gaungan nilai-nilai
kepahlawanan itu masih bergema dalam jiwa kita, ataukah yang tersisa hanyalah
acara seremonial ? Setahun sekali menggerek bendera Merah Putih setengah tiang dan
kemudian upacara dan selesailah sudah seluruh rangkaian acara. Setiap tahun
puluhan artikel membahas dan mengajak kita untuk memahami arti dan makna dari
nilai-nilai kepahlawanan tersebut, namun pada kenyataannya semakin lama semakin
kabur . 71 tahun sudah Indonesia merdeka, namun tidak ada yang berubah. Memang
kita sudah merdeka dari penjajahan Belanda. Namun penjajahan dalam bentuk lain masih
tetap berlangsung seperti kemalasan kebodohan yang menimbulkan perpecahan sikap
apatis akibat jiwa yang terbelenggu, maka setiap pembahasan serta ajakan
berubah semakin hari semakin meredup sehingga gaungnya tidak lagi bergema dari
hari ke hati. Segala upaya untuk mencerahkan dan membahas ulang tentang arti
dan makna dari nilai-nilai luhur seorang pahlawan menjadi meluntur dan mati.
Pidato-pidato perubahan hanya menjadi semacam foto copy atau rekaman ulang yang
tidak bermakna lagi. Bertanya Pada Diri Sendiri. Siapa yang seharusnya mengajak
kita semuanya untuk mengaplikasikan serta menerapkan nilai kepahlawanan
tersebut dalam kehidupan bermasyarakat ? Ataukah tidak ada secercah harapan
lagi yang bisa kita harapkan untuk mendapatkan contoh teladan bagaimana
sebenarnya arti kepahlawanan itu di manifestasikan dalam jaman kemerdekaan ini,
keinginan hati untuk mengubah wajah Indonesia menjadi negara yang adil dan
makmur memang sangatlah menakjubkan. Tetapi segala sesuatu perubahan yang ingin
kita lakukan selalu harus diawali dengan diri kita terlebih dulu. Tanpa itu,
maka cita-cita kebangsaan seluhur apapun akan tetap menjadi impian kosong. Apa
yang kira-kira anda dan saya atau kita semuanya sudah lakukan untuk mewudjudkan
impian para Pahlawan kita, sehingga menjadi kenyataan? Apa lagi yang dapat saya
lakukan untuk melanjutkan cita-cita luhur para pahlawan kita? Atau mampukah
kita semuanya menjadi titipn harapan bagi para Pahlawan kita ? Atau barangkali
kita lupa pesan Bung Karno:" Aku titip negeri ini padamu" Kalau kita
bertanya pada rumput yang bergoyang tidak akan ditemui jawabannya disana. Mari
kita tanya hati kita masing masing. Selama 71 tahun lamanya, para Pahlawan kita
sudah menghantarkan kita mendiami “tanah terjanji” yaitu negara Indonesia yang
merdeka, namun kita hanya menerimanya tanpa berbuat sesuatu yang memadai untuk mewujudkan
impian Pahlawan kita yaitu Indonesia yang adil dan makmur. Bahkan tidak sedikit
orang orang yang menodainya dengan cara-cara yang sangat melukai harkat diri
kita sebagai bangsa yang berdaulat. Semoga kekuatan energi para pahlawan ini mampu
menggerakkan hati dan jiwa kita untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan
diri masing-masing. Sehingga tidak malu kita berdiri di depan Bendera Sang Saka
Merah Putih karena kita sudah berbuat sesuatu untuk mengisi kemerdekaan ini.