Rabu, 19 Juni 2013

WABAH PENYAKIT PES DI EROPA PADA ABAD KE 14

BAB I
PENDAHULUAN

Wabah Justinianus adalah pandemik yang menyerang Kekaisaran Romawi Timur (Kekaisaran Bizantium), termasuk ibukotanya Konstantinopel, pada tahun 541–542 M. Penyebabnya kemungkinan adalah wabah pes, yang kemudian menjadi tidak populer karena menyebabkan wabah Kematian Hitam pada abad ke-14. Pengaruh sosial dan kultural dari wabah ini dapat disamakan dengan Kematian Hitam. Dalam pandangan sejarawan abad keenam, cakupan wabahnya hampir seluruh dunia, terutama menyerang Asia Selatan dan Tengah, Afrika Utara dan Arabia, dan Eropa (di utara sejauh Denmark dan di barat sejauh Irlandia).

Di Eropa pada abad pertengahan, kucing dianggap berhubungan dengan penyihir dan bersekutu dengan iblis, karena itu kucing banyak yang dibunuh dengan dibakar atau dilempar dari tempat tinggi. Pembantaian kucing ini menyebabkan populasi tikus berkembang sangat pesat. Akibatnya sangat fatal.

Tikus adalah hewan pembawa penyakit pes. Penyakit pes pun mewabah diseluruh Eropa. Pada pertengahan abad ke-14 (1346-1353), penyakit pes telah membunuh sekitar 25 juta orang atau sepertiga populasi benua Eropa waktu itu. Sejarah mencatat kejadian ini sebagai wabah Black Death. Sebuah wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia.

Selama Abad ke-14, pedagang dari kota-kota pelabuhan Laut Tengah dan Laut Hitam mengadakan perjalanan ke Cina, dan sepulangnya, membawa kembali sutera serta kulit binatang yang berharga. Ketika kembali dari perjalanan seperti ini pada tahun 1343, sekelompok pedagang dari Genoa menurut laporan lari ketakutan karena adanya pasukan orang Tartar, dan berlindung di balik tembok kota perdagangan Caffa di Semenanjung Krim. Orang Tartar segera mengepung kota tersebut. Selama tiga tahun tak ada pihak yang mendapatkan kemajuan, sampai pada suatu hari orang Tartar berhenti melemparkan batu ke dalam kota Caffa dan mulai melemparkan mayat-mayat tentara mereka sendiri yang meninggal karena pes.

Dengan percobaan perang bakteri ini, orang-orang Tartar telah mencetuskan wabah raya terburuk dalam sejarah umat manusia. Dengan adanya mayat-mayat penderita pes dalam kota Caffa, maka seluruh kota terkena infeksi. Kemudian tiba-tiba para pengepung menghilang, mungkin karena panik oleh banyaknya korban yang jatuh di antara mereka sendiri karena penyakit pes. Orang Genoa yang masih hidup segera kembali ke kapal dan berlayar lagi. Banyak di antara mereka meninggal di kapal, tetapi sisanya mendarat di Konstatinopel, Genoa, Venesia, dan kota-kota pelabuhan, dan disana menulari keluarga dan kawannya. Dengan demikian wabah pes tiba di Eropa. Penyakit ini menyebar dari kota-kota pelabuhan Laut Tengah ke pedalaman Utara dan Barat, dari Italia dan Yunani ke Perancis, Spanyol, dan Inggris.

Penyebarannya tidak berbeda dengan penyebaran pes itu dari Asia ke Semenanjung Krim. Tak ada satu desa pun yang luput, dan keganasannya bertambah sehingga pada tahun 1348 dua pertiga penduduk Eropa telah terkena. Selama delapan tahun wabah raya berkecamuk dan sekurang-kurangnya separuh dari jumlah penderita meninggal. Jumlah korbannya hampir tak dapat dipercaya, yakni sebanyak 25 juta orang. Pada waktu itu tak ada tempat untuk bersembunyi. Mereka yang melarikan diri ke laut pun menemukan penyakit pes sebagai penumpang gelap di atas kapal.

Sejak dahulu kala sampai kini, infeksi mikroba merupakan ancaman utama terhadap kesehatan manusia beradab. Penyakit pes lebih dari pada pes-pes di kemudian hari seperti misalnya kolera, cacar, demam kuning dan influenza tetap merupakan contoh utama mengenai suatu penyakit infeksi yang datang dari luar negeri dan menyerang orang Filistin melalui pelabuhan laut mereka. Wabah raya penyakit pes yang pertama, yakni pes Justinius pada Abad ke-6, berkecamuk waktu perdagangan internasional meningkat.

Pengaruh bencana wabah raya terhadap dunia Romawi ini memainkan peranan besar untuk dimulainya. Abad Kegelapan. Setelah menyapu Eropa pada Abada ke-14, penyakit pes tetap membara selam 300 tahun, sekali-kali meledak bila orang rentan tinggal berdesak-desakan di suatu tempat. Lama-kelamaan penyakit ini menjadi penyakit kota, terutama pelabuhan dan pusat perdagangan yang kerap terserang.


BAB II
PEMBAHASAN
Wabah-wabah ini mencapai puncaknya di London dalam wabah raya tahun 1665. Pada bulan September tahun itu, daftar kematian mingguan kota London menunjukkan bahwa lebih dari 30.000 orang meninggal dunia. Tetapi bahkan daftar-daftar ini tidak mengungkapkan seluruh ceritanya. Orang-orang berusaha keras untuk menyembunyikan penderita-penderita baru karena takut akan dikurung dalam rumah-rumah mereka sendiri.

Hanya ada satu rumah pes, atau rumah sakit, di dalam kota, sehingga bila diketahui ada seseorang menderita sakit pes., petugas-petugas langsung mengurung orang tersebut beserta setiap orang yang ada hubungannya dengan penderita tersebut orang tua, anak, pembantu, ataupun tamu. Seorang penjaga berjaga siang malam empat minggu lamanya sampai setiap orang di dalam rumah dinyatakan sehat. Untuk sebagian besar penderita, hanya kereta matilah yang merupakan satu-satunya jalan keluar. Untuk menghindari pengurungan di dalam rumah, sejumlah besar keluarga melarikan diri dari London segera setelah mengetahui bahwa salah seorang anggota keluarganya menderita penyakit pes. Yang lain berhasil kabur dari rumah-rumah mereka yang telah ditandai sewaktu penjaga lengah atau dengan cara mengeroyoknya. Dengan demikian mereka menyebarkan penyakit, mula-mula ke kota terdekat dan akhirnya ke seluruh Inggris.

Di London sendiri, semua perdagangan dan lalu lintas terhenti. Orang takut dekat-mendekati. Bahkan penjual jimat penangkis pes menghilang pula dari jalan-jalan, demikian pula dukun yang menjual minuman dan pil yang tak ada khasiatnya. Dokter-dokter terkemuka pada zaman itu pun tak dapat menghentikan penyakit pes itu. Bubo atau pembengkakan kelenjar, yang memberikan nama pada penyakit ini (pes bubonic), umumnya timbul di ketiak atau di selangkangan, dokter menggunakan tapal panas, bahan tajam yang dapat membakar kulit, dan pisau dalam usaha mereka memecahkan pembengkakan serta mengeluarkan cairannya, dengan keyakinan bahwa bila ini terjadi, orang sakit akan tertolong. Pada sebagian besar penderita cara pengobatan ini gagal menyembuhkan. Segera dokter-dokter berhenti mengunjungi rumah-rumah penderita karena perasaan takut atau putus asa, atau karena telah meninggal pula. Akhirnya pada musim gugur tahun 1666, penyakit pes mulai menghilang dari London. Setelah tahun 1720 M penyakit pes lenyap pula dari Eropa Barat, kecuali yang terjadi secara terpisah-pisah di sana-sini.

Sebelum menghilang sama sekali, penyakit pes sangat mempengaruhi struktur social Eropa. Penyakit tersebut turut merombak system feodala, karena menaikkan harga buruh yang tersisa. Penyakit pes mengubah pula sikap lama terhadap penyakit. Sampai waktu itu orang-orang percaya bahwa penyakit merupakan pertanda hukuman dari Tuhan. Tetapi pembantaian yang dilakukan penyakit pes tanpa pandang bulu, apakah korbannya orang suci ataukah orang berdosa, memperjelas bahwa orang berhadapan dengan suatu sebab yang sifatnya lebih duniawi. Maka timbulah pengertian pertama yang masih samar-samar mengenai penularan penyakit. “Uap beracun”, “Bau busuk” dan “udara busuk dan penyebab penyakitnya mulai dipersalahkan sebagai penyebab penyakit, dan bukan lagi dosa atau tidak adanya imam. Meskipun usaha-usaha pertama untuk mengadakan karantina ternyata tak berhasil, namun telah diletakkan dasar-dasar permulaan sanitasi umum.

Seperti telah terlihat dan diuraikan dengan panjang lebar sampai sekarang ini, beberapa kasus penyakit pes yang terpencil tak akan menimbulkan wabah, demikian pula suatu wabah satu daerah tidak dengan sendirinya harus menjadi wabah raya yang melebar luas. Kini telah diketahui bahwa penyakit pes disebarkan tikus yang ketularan yang hidup dekat manusia dan infeksi menular dari tikus pada manusia melalui gigitan pinjal tikus. Kadang kala penyakit pes berupa radang paru yang sangat menular pes pneumonia yang ditularkan secara langsung dari orang ke orang melalui batuk penderita.

Kedua jenis penyakit pes disebabkan oleh basilus yang sama, yakni Pasteurella pestis, yang baru dikenal pada tahun 1894. Jasad renik tersebut kini masih hidup subur pada rodensia (binatang pengerat) liar di berbagai bagian dunia. Sumber infeksi utama yang tetap terdapat di stepa Asia Tengah, yakni pada marmot dan tikus saku yang membawa basilus tersebut seumur hidup. Bahaya timbul bila binatang-binatang ini menularkan basilus pes pada tikus-tikus rumah, terutama pada tikus-tikus hitam yang paling senang tinggal di rumah manusia.

Penyakit pes tak dapat bercokol di Eropa setelah tahun 1720 karena menghilangnya tikus hitam. Tikus hitam terdesak, sebagian oleh adanya perbaikan perumahan dan sebagian oleh tikus lain, yakni tikus cokelat yang lebih kuat, yang menyebar dari Rusia Timur menyeberangi Sungai Volnga pada tahun 1727 dan dengan cepat menyebar melalui darat dan laut. Tikus cokelat ini dikenal sebagai aœtikus gotae dan sampai kini masih kerap terlihat di Eropa dan Amerika Serikat. Tikus got biasa hidup di got atau berkeliaran ke mana-mana, menjauhi manusia. Lagi pula, sebagai pengantar penyakit pes pada manusia jenis pinjal tikus cokelat tidak sebaik pinjal tikus hitam.

Orang-orang biasanya menderita penyakit pes karena digigit oleh kutu tikus yang membawa bakteri Pasteurila pestis. Wabah ini masih terjadi di masyarakat pedesaan atau di kota-kota, terutama mereka yang biasa berhubungan dengan tikus dan kutu tikus. Gejala dari penyakit pes adalah demam tinggi, menggigil, sakit kepala, lemas, dan sakit pada ulu hati.

Di abad pertengahan, kucing sering dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh dengan dibakar atau dilempar dari tempat tinggi. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa takhyul seperti inilah yang menyebabkan wabah Black Death menyebar dengan cepat. Black Death diperkirakan merupakan sebuah wabah penyakit pes di Eropa pada abad ke-14. Cepatnya penyebaran wabah ini menyebabkan banyak orang waktu itu percaya bahwa setanlah yang menyebabkan penyakit tersebut. Pernyataan Paus menyebutkan bahwa kucing yang berkeliaran dengan bebas telah bersekutu dengan setan. Karena pernyataan ini, banyak kucing dibunuh di Eropa pada saat itu. Penurunan jumlah populasi kucing menyebabkan meningkatnya jumlah tikus, hewan pembawa penyakit pes yang sesungguhnya.

Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya situs berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.

Hukum menjual dan membeli kucing pun dalam syariat Islam adalah haram hukumnya berdasarkan dalil hadits Nabi Muhammad dan kaidah fiqih (al-qawa’id al-kulliyah). Dalil hadits Muhammad, diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah bahwasanya sang Nabi telah melarang memakan kucing dan melarang pula memakan harga kucing. Hadits Muhammad itu menjadi dalil haramnya memakan kucing dan memperjual-belikan kucing. Jadi Umat Islam diharamkan untuk memperdagangkan kucing sebagaimana mereka diharamkan memakan daging kucing.

Mekanisme penyakit pes itu juga tergantung pada dua populasi tikus, satu resisten terhadap penyakit, yang bertindak sebagai tuan rumah, menjaga penyakit endemik, dan yang kedua yang kurang perlawanan. Ketika populasi kedua meninggal, kutu pindah ke host lain, termasuk orang-orang, sehingga menciptakan suatu epidemi manusia.

Sejarawan Francis Aidan Gasquet, yang telah menulis tentang Sampar Agung pada tahun 1893 dan menyarankan bahwa “akan muncul menjadi beberapa bentuk dari wabah pes Timur atau biasa” mampu mengadopsi epidemiologi penyakit pes untuk Black Death untuk edisi kedua tahun 1908, melibatkan tikus dan kutu dalam proses, dan penafsirannya secara luas diterima untuk epidemi kuno dan abad pertengahan lainnya, seperti wabah Justinian yang lazim di Kekaisaran Romawi Timur 541-700 AD.

Wabah pes modern memiliki tingkat kematian 30 sampai 75 persen dan gejala termasuk demam 38-41 ° C (101-105 ° F), sakit kepala, nyeri sendi sakit, mual dan muntah, dan perasaan umum malaise. Jika tidak diobati, dari mereka yang kontrak penyakit pes, 80 persen meninggal dalam waktu delapan hari wabah pneumonia. Memiliki tingkat kematian 90 sampai 95 persen. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan darah-biruan dahak. Sebagai penyakit berlangsung, dahak menjadi merah dan terang mengalir bebas. Wabah septicemia adalah yang paling umum dari tiga bentuk, dengan tingkat mortalitas mendekati 100 persen. Gejala demam tinggi dan bercak kulit ungu (purpura akibat koagulasi intravaskular diseminata). Dalam kasus wabah pneumonia dan khususnya septicemia kemajuan penyakit ini begitu cepat sehingga sering ada akan ada waktu untuk pengembangan pembesaran kelenjar getah bening yang tercatat sebagai buboes

Banyak sarjana modern menerima bahwa mematikan dari Black Death berasal dari kombinasi wabah pes dan pneumonia dengan penyakit lain dan memperingatkan bahwa setiap menyebutkan sejarah hama bukan wabah pes tentu. Dalam studinya wabah 15thC, Ann Carmichael menyatakan bahwa cacing, cacar, demam dan disentri jelas disertai penyakit pes.




BAB III
KESIMPULAN

Penafsiran ini pertama kali secara signifikan ditantang oleh karya bakteriologi Inggris JFD Shrewsbury pada tahun 1970, yang mencatat bahwa tingkat kematian dilaporkan di daerah pedesaan selama pandemi abad ke-14 tidak konsisten dengan penyakit pes modern, memimpin dia untuk menyimpulkan bahwa rekening kontemporer berlebihan . Pada tahun 1984 ahli zoologi Graham Twigg menghasilkan karya besar pertama untuk langsung menantang teori penyakit pes, dan keraguan tentang identitas Black Death telah diambil oleh sejumlah penulis, termasuk Samuel K. Cohn, Jr (2002), David Herlihy (1997), dan Susan Scott dan Christopher Duncan (2001)

Hal ini diakui bahwa account epidemiologi wabah adalah sebagai penting sebagai identifikasi gejala, namun para peneliti terhambat oleh kurangnya statistik yang dapat diandalkan dari periode ini. Pekerjaan yang paling telah dilakukan pada penyebaran wabah di Inggris, dan bahkan perkiraan populasi keseluruhan di awal bervariasi oleh lebih dari 100% karena tidak ada sensus dilakukan antara Kitab Domesday dan 1377. Perkiraan korban wabah biasanya diekstrapolasi dari angka untuk para ulama.

Selain berdebat bahwa populasi tikus tidak cukup untuk account untuk pandemi penyakit pes, skeptis dari titik wabah pes teori bahwa gejala Black Death tidak unik (dan bisa dibilang dalam beberapa rekening mungkin berbeda dari wabah pes); yang transferensi melalui kutu barang itu mungkin penting marjinal dan bahwa tes DNA mungkin cacat dan belum pernah diulang di tempat lain, meskipun sampel yang luas dari kuburan massal lainnya argumen lainnya termasuk kurangnya rekening kematian tikus sebelum wabah wabah antara abad 14 dan 17, suhu yang terlalu dingin di Eropa Utara untuk kelangsungan hidup kutu, bahwa, meskipun sistem transportasi primitif, penyebaran Black Death jauh lebih cepat daripada Bubonic plague modern, yang tingkat mortalitas dari Black Death tampaknya sangat tinggi, bahwa, selama wabah pes modern sebagian besar endemik sebagai penyakit pedesaan, Black Death melanda tanpa pandang bulu daerah perkotaan dan pedesaan; bahwa pola Black Death, dengan wabah besar di daerah yang sama yang dipisahkan oleh antara 5 dan 15 tahun, berbeda dari wabah pes yang modern, yang sering menjadi endemik selama beberapa dekade, melebar sampai pada dasar tahunan.

Akibat Penyakit Pes



DAFTAR PUSTAKA

http://m.koran-sindo.com/node/306717  diakses 11 juni 2013

http://biologimediacentre.com/inilah-wabah-yang-pernah-mengguncang-dunia/  diakses 11 juni 2013

http://organisasi.org/sejarah-wabah-besar-penyakit-pes-yang-terjadi-pada-abad-sebelum-kita diakses 11 juni 2013

1 komentar:

Aris mengatakan...

bagus sekali blog ini, sangat edukatif